5 Film yang Bisa Mengingatkan Kita Akan Kasih Sayang Seorang Ayah. Karena Ayah Juga Sama Hebatnya Seperti Ibu Kita

5 Film yang Bisa Mengingatkan Kita Akan Kasih Sayang Seorang Ayah. Karena Ayah Juga Sama Hebatnya Seperti Ibu Kita

27.1K

Saya melakukan survey sederhana beberapa waktu lalu di kelas saya, kelas 7 sebuah SMP negeri di Jogja. Saya menanyakan tentang kapan diperingatinya hari ibu di Indonesia, kebanyakan dari mereka menjawab dengan benar, tanggal 22 Desember. Akan tetapi ketika saya bertanya tentang peringatan hari ayah, semua siswa di kelas saya diam tanpa jawaban. Bahkan, salah satu dari mereka malah balik bertanya, “Memang ada ya, Bu, peringatan hari ayah?” Duh. Batin saya sedikit miris. Selama ini, di negara kita, perayaan hari ayah memang jauh sekali pamornya jika dibandingkan dengan peringatan hari ibu. Peringatan hari ibu banyak diberitakan baik di media radio, televisi, maupun sosial media. Akan tetapi, peringatan hari ayah relatif dilupakan. Padahal, jika kita melihat ke keluarga kita sendiri ataupun ke lingkungan sekitar kita, peran seorang ayah dalam keluarga sebenarnya tidak kalah pentingnya dibanding peran seorang ibu.


Di lingkungan tempat saya tinggal, bahkan ada teori tidak tertulis yang dipercayai oleh kebanyakan orang. Teori tersebut kurang lebih menggarisbawahi bahwa sebuah keluarga tanpa kehadiran ayah cenderung akan tetap baik-baik saja, akan tetapi sebuah keluarga tanpa kehadiran ibu akan berantakan dan tidak terurus. Tentu saja betul tidaknya kepercayaan tersebut belum bisa dibuktikan secara akurat. Akan tetapi, beberapa film di bawah ini bisa menunjukkan bahwa ternyata, ayah pun bisa juga merawat anak dan keluarga dengan baik meskipun sendiri. Dan, bukan hanya sekedar dalam film, fakta langsung di sekitar lingkungan tempat tinggal saya di Jogja pun ternyata membuktikan hal yang kurang lebih sama. Karena sebentar lagi Hari Ibu akan tiba, ada baiknya juga kita mengingat lagi kebaikan ayah kita agar kasih sayang kita selalu berimbang untuk kedua orang tua kita. Yuk, kita coba lihat film-film tentang ayah-ayah super, sekaligus kita tengok lingkungan sekitar kita dan belajar dari super daddies di sekitar kita.


1. Life is Beautiful (1997)



Photo credit: jeffoutsidethebox.com


Dengan setting pembantaian Yahudi oleh Nazi (tragedi holocaust), drama komedi tragis yang disutradarai dan dibintangi oleh Roberto Benigni ini menceritakan tentang seorang ayah bernama Guido Orefice yang berusaha menyelamatkan nyawa putranya. Dipaksa tinggal di camp dengan segaram khas garis-garis putih biru, Guido diceritakan berhasil menyelundupkan putranya untuk dapat tetap tinggal sekamar dengannya. Dengan cerdiknya, agar putranya tidak rewel dan terus menanyakan keberadaan ibunya, dia memberitahu putranya bahwa yang mereka alami saat itu adalah sebuah permaianan dengan hadiah utama berupa tank perang. Sang anak meskipun tinggal dalam camp pembantaian sama sekali tidak merasakan penderitaan seperti yang seharusnya, berkat kecerdikan ayahnya. Ayah yang humoris namun berakhir tragis ini berhasil menjebol banyak kantong air mata pemirsa yang melihatnya. Ironi antara apa yang sebetulnya terjadi, apa yang dipahami pikiran terbatas seorang kanak-kanak, dan bagaimana sang ayah memperlihatkan sudut pandang lain pada setiap keterbatasan mereka, sungguh menjadikan drama ini drama yang apik ditonton, didiskusikan, dan diambil hikmahnya.

Film ini mungkin akan sangat tepat dilihat oleh mereka-mereka yang memiliki hubungan yang renggang dengan sang ayah. Film ini dapat menunjukkan pada kita, bagaimana usaha seorang ayah untuk membahagiakan putranya dalam keadaan apapun, dengan cara yang tidak selamanya dapat kita pahami dengan jelas. Menunjukkan bahwa perbedaan usia dan sudut pandang bukanlah hal yang membuat kita merasa tidak dekat dengan ayah.


Film ini juga mengingatkan saya pada masa kecil saya, saat ayah saya beberapa kali terpaksa mengajak saya berjalan kaki ke sekolah yang jaraknya kurang lebih 2 km. Sebagai seorang siswa kelas 1 Sekolah Dasar, jarak 2 km tentu saja cukup jauh bagi saya. Nah, untuk menghindarkan saya dari rasa lelah dan merengek, ayah saya mengajak saya berlomba mencari, menginjak dan menghitung putri malu yang banyak tumbuh di tepi jalan. Pengalaman saya pribadi dan cerita dalam film ini dengan kental menunjukkan cara unik seorang ayah mengekspresikan kasih sayang dan perlindungannya kepada anak. Cara ‘absurd’ yang kadang sulit kita pahami maksudnya.


2. The Pursuit of Happyness (2006)



Photo credit: sky.com


Drama ini diambil dari biografi tentang Christ Gardner yang selama satu tahun menjadi tunawisma. Drama yang dibintangi oleh Will Smith (Christ Gardner) dan Jaden Smith (Christopher Gardner Jr.) ini menceritakan perjuangan sang ayah tunawisma yang ke mana-mana harus membawa serta putranya yang masih berusia 5 tahun. Scene tertragis dalam film ini adalah ketika sang ayah tunawisma harus mengajak putranya tidur di kamar mandi umum dengan beralaskan tisu toilet. Tangis saya pecah sepecah-pecahnya saat melihat Christopher yang tidur dengan nyenyak di pangkuan ayahnya, sedangkan ayahnya terus terjaga untuk menahan pintu jika sewaktu-waktu ada yang menggedor dari luar. Akan tetapi lagi-lagi, sudut pandang seorang ayah memang unik.

Dalam salah satu scene sang ayah mengatakan, “Now and then it’s just good to pause in our pursuit of happiness and just be happy.” (Mulai sekarang dan seterusnya, mari kita berhenti saja mengejar kebahagiaan, mari kita berbahagia saja.) Sebuah sudut pandang yang tentu saja sangat positif, bagi kita yang sering mengeluh, terlalu mengejar hal-hal besar, mengesampingkan orang-orang tersayang dalam hidup kita, dan lupa mengajak mereka hidup berbahagia bersama dengan kita.


Cerita ini mengingatkan saya pada pemandangan yang beberapa kali saya lihat di Jalan Solo dan Jalan Affandi Gejayan Jogja, di mana seorang bapak berusia 40an bersama ketiga anaknya menghabiskan malam di trotoar. Sang ayah saya lihat beberapa kali selalu masih terjaga sambil menggendong anaknya yang paling kecil, sedangkan dua anaknya yang lain tertidur nyenyak, tanpa mempedulikan lalu lalang kendaraan maupun dingin malam yang menusuk. Siapa yang tidak akan tersentuh melihatnya. Saya pribadi pun sangat tersentuh, hanya merasa tidak punya hak untuk mengasihani mereka. Kenapa harus kasihan? Bisa jadi mereka jauh lebih bahagia dari saya, memiliki seorang ayah penyayang yang selalu ada di samping mereka. Saya diingatkan bahwa keberadaan hal-hal materialistis bukanlah syarat utama untuk bahagia. Saya melihat tidur nyenyak anak-anak bapak tersebut dan menemukan damai yang dalam. Saya sadar kemudian, bahwa dalam keadaan apapun, yang kita butuhkan untuk merasa bahagia adalah rasa syukur.


3. Usagi Drop (2011)



Photo credit: amazon.com


Drama dari Negeri Sakura yang diadopsi dari manga Usagi Doroppu (ditulis oleh Yumi Unita) ini menceritakan tentang repotnya menjadi seorang ‘single father’. Uniknya, anak perempuan berusia 6 tahun yang dirawat oleh tokoh utama Daikichi (Kenichi Matsuyama) bukanlah anak kandungnya, melainkan anak bibinya, yang merupakan anak haram kakeknya yang baru saja meninggal (bernama Rin Kaga, diperankan oleh Mana Ashida). Konflik dalam film ini mengangkat tentang sulitnya mengatur kehidupan sehari-hari sebagai seorang ayah tunggal dan kehidupannya sebagai pekerja muda yang karirnya sedang menanjak. Digambarkan pula bagaimana kerasnya usaha Daikichi untuk membuat Rin mengenalnya, mengajari Rin berhenti mengompol, dan agar Rin tetap mendapat pendidikan. Perjuangan yang sempat membuatnya hampir putus asa.

Perjuangan yang membuat kita melihat, bahwa jika mau berusaha dengan maksimal, seorang ayah pun bisa menyeimbangkan kehidupan pekerjaan dan keluarganya.


Hampir sama dengan konflik yang dialami tokoh dalam film Usagi Drop, seorang teman guru saya di Jogja pun mengalami konflik yang serupa. Sebut saja namanya Pak M, sejak tujuh tahun yang lalu ia harus mengurus putra-putrinya seorang diri. Bahkan bukan hanya satu anak perempuan seperti dalam drama Usagi Drop, namun dia harus mengurus 3 anak kandung dan 2 anak tirinya. Istri keduanya (setelah yang pertama meninggal karena kecelakaan) meninggal setelah melahirkan putra terakhirnya. Dia pun harus mengurus sang baby sendiri, sambil harus tetap mengurus keempat putra-putrinya yang lain yang masih kecil-kecil. Dia bahkan rela pindah ke rumah lama mendiang istri keduanya demi perkembangan mental dan pendidikan putra-putrinya. Hebatnya, dia tetap mampu menjadi guru yang profesional. Sungguh perjuangan yang harusnya membuat kita belajar menghargai arti penting dan peran seorang ayah. Membuka pandangan kita juga, bahwa sebenarnya seorang single dad sekalipun dapat menyelaraskan kehidupan keluarga dan pekerjaannya.



4. Instruction Not Included (2013)



Photo credit: variety.com


Drama komedi ini cocok bagi kamu yang menyukai cerita yang konradiktif. Film Spanyol yang aslinya berjudul No se aceptan devoluciones ini menceritakan tentang seorang ayah (Velentin, diperankan oleh Eugenio Derbez) yang memiliki pekerjaan sebagai stunt man. Dia sangat memanjakan putrinya, sehingga dia pernah mendapat kritik karenanya. Namun, ternyata dia memiliki alasan khusus mengapa dia sangat memanjakan putrinya, salah satunya adalah karena ayahnya yang dulu sangat keras padanya pada waktu dia masih kecil. Akhir cerita dalam drama ini kontradiktif, cenderung tidak terduga. Yang menarik, pada scene terakhir, Valentin akhirnya memahami alasan ayahnya yang dahulu sangat keras dalam mendidiknya.

There is no bad dad, begitu kurang lebih kesimpulannya.


Kurang lebih sama dengan yang dialami Valentin, seorang teman bercerita pada saya bahwa dia baru dapat memaklumi tindakan disiplin yang diterapkan ayahnya semasa dia remaja dulu setelah dia menjadi seorang ayah. Dia mengatakan, jika dia saja harus dididik dengan kedisiplinan selevel itu untuk dapat hidup dan bertahan pada zaman sekarang, maka dia harus menyiapkan anaknya dengan level kedisiplinan yang lebih tinggi untuk dapat bersaing dan bertahan pada masanya nanti.


5. Chef (2014)



Photo credit: hello-pet.com


Dibandingkan dengan 4 film yang sebelumnya, mungkin film yang terakhir inilah yang paling membuat selera makan kita datang. Selain memang banyak scene memasak dan makanan, ceritanya pun dirangkai secara ringan namun tidak mengurangi isinya. Menceritakan tentang seorang ayah yang berprofesi sebagai chef, Carl Casper (diperankan oleh Jon Favreau) memiliki hubungan yang agak renggang dengan putranya Percy (John Leguizamo) yang beranjak remaja. Memiliki setting tempat di Miami dengan kondisi sosial saat ini, film ini terkesan sangat dekat dengan pemirsanya. Apalagi intrik-intrik sosial media yang diangkat (twitter) merupakan hal yang sering terjadi di sekitar kita. Maka film ini menjadi sangat nyaman untuk diikuti.

Hal yang dapat kita pelajari dalam film ini adalah tentang penerimaan. Menerima keluarga kita apa adanya dan saling mendukung, pasti akan membawa kita pada suatu tempat yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Seperti apa yang dilakukan seorang teman dengan anak yang memiliki keterbelakangan secara fisik, dia menerima anaknya dengan tangan terbuka, menyayanginya dan mendidiknya dengan maksimal, dan akhirnya malah membuatnya memiliki sebuah study and discussion center bagi orang tua yang memiliki masalah serupa dengannya.



Nah, jika kita perhatikan, ternyata tanpa memandang batas negara, waktu, maupun budaya, ternyata naluri seorang ayah kurang lebih hampir sama. Mencintai dengan cara mereka yang unik, melindungi sekaligus mendidik kita dengan cara-cara terselubung, serta diam-diam menghangatkan jiwa kita dengan kasih sayangnya yang kadang terkesan malu-malu. Konflik-konflik ayah-anak pun ternyata bukanlah hal yang besar jika kita mau membuka cakrawala pikiran kita dan berusaha memahami ayah kita apa adanya. Bersyukur karena memiliki mereka. If it’s not for you, I’ll never be who I am, dad. Yuk tengoklah ayah kita sekarang dan tunjukkan rasa sayang kalian padanya.

“I love you, Dad.”






Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "5 Film yang Bisa Mengingatkan Kita Akan Kasih Sayang Seorang Ayah. Karena Ayah Juga Sama Hebatnya Seperti Ibu Kita". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


novika okta | @novikaokta

A woman who likes to try everything hard. Try hard to be a teacher for herself. Try hard to be a mom for her son. Try hard to be a wife for her husband. Try hard to remind herself not to stop.

Silahkan login untuk memberi komentar