Gita Safitri Devi, YouTuber dari Indonesia yang Kini Kuliah di Jerman

Gita Safitri Devi, YouTuber dari Indonesia yang Kini Kuliah di Jerman

6K
Ini kisah perjalananku tinggal dan kuliah di Jerman. Jika kamu ingin bertanya tentang segala hal yang berkaitan dengan tinggal dan kuliah di Jerman, budaya di Jerman, silakan tanya di kolom komentar ya. Aku akan jawab satu per satu pertanyaan-pertanyaan dari Sahabat Trivia.

Namaku Gita Savitri Devi. Sudah 6 tahun ini aku berdomisili di ibu kota Jerman, Berlin. Walaupun aku sudah 24 tahun, saat ini aku masih dalam proses menyelesaikan studi S1 di Freie Universität Berlin jurusan kimia murni. Karena aku sudah berada di semester akhir studiku, sekarang ini aku tidak terlalu memiliki banyak aktivitas di kampus. Jadi, aku mencari kesibukan lain yaitu membuat dan mengedit video untuk aku unggah ke YouTube, menulis artikel untuk salah satu koran dan majalah di Indonesia, dan sesekali aku juga mengikuti program pertukaran pelajar yang diadakan oleh Erasmus.

photo credit: Gita Savitri Devi

Selama ini aku banyak sekali mendapat pertanyaan, "Kenapa bisa kuliah di Jerman dan bagaimana caranya?" Aku kuliah di Jerman karena dulu orang tuaku pernah tinggal di sini. Mereka beranggapan situasi dan kondisi di Indonesia kurang kondusif untuk menuntut ilmu. Berdasarkan pengalaman, mereka juga berpikir tinggal di luar negeri itu adalah salah satu cara ideal untuk 'menggodok' mental dan setelah mengalaminya langsung, aku pun setuju. Dikarenakan banyaknya kerabat yang tinggal di Jerman, orang tuaku jadi lebih mudah mengurusi keberangkatan. Jerman dan birokrasinya juga sudah tidak asing bagi mereka. Maka dari itu kami tidak perlu mengeluarkan uang ekstra untuk membayar agen kuliah di Jerman yang harganya bisa sampai ratusan juta.

Jika kamu bertanya kepada setiap mahasiswa di sini, jawabannya akan sama. Kuliah di Jerman itu sulitnya bukan main. Mungkin karena kualitas universitasnya juga bagus, jadi wajar kalau level kesulitannya di atas rata-rata. Selain itu bukan hanya karena kami harus menggunakan bahasa Jerman di kampus dan kehidupan sehari-hari, tapi kesulitan itu juga kami dapat karena kami harus bertahan hidup.

Hampir semua mahasiswa di sini memiliki pekerjaan paruh waktu. Kami bekerja bukan karena iseng-iseng, tapi untuk makan, untuk bayar uang sewa apartemen, bayar uang asuransi, bahkan untuk bayar uang kuliah tiap semester (Betul, kuliah di Jerman itu tidak gratis). Tidak jarang kami, mahasiswa, akhirnya keteteran menyeimbangkan waktu belajar dan bekerja. Belum lagi ketika kami dilanda masalah birokrasi seperti visa, rasa-rasanya kepala seperti mau copot.

Sejak peristiwa gelombang pengungsi beberapa saat lalu, peraturan di Jerman jadi diperketat. Sekarang kita tidak bisa lagi sembarangan memperpanjang visa jika kita lulus kuliah lebih lama dari waktu yang ditentukan. Untuk itu kita butuh sejumlah uang jaminan di rekening bank dan juga surat resmi dari universitas.

photo credit: hijabkeren

Selain sulit, kuliah di Jerman itu memakan waktu yang lama. Ketika seseorang sampai pertama kalinya di Jerman setelah lulus SMA, dia tidak bisa langsung kuliah. Selama minimal 1 tahun dia harus sekolah di Studienkolleg terlebih dahulu. Di sana dia akan mengulang pelajaran SMA, tapi dengan sistem pembelajaran ala Jerman yang teoritis. Aku ingat ketika awal-awal berada di Studienkolleg dulu, aku hanya bisa menangis karena aku tidak mengerti pelajaran fisika mekanik. Beberapa waktu lalu aku sempat mengobrol dengan teman yang tinggal di Halle. Dia bilang setiap tahun pelajar Indonesia yang mengikuti tes masuk Studienkolleg Halle jumlahnya makin banyak, tetapi kuota yang disediakan segitu-segitu saja. Ini tidak hanya terjadi di Halle, tapi juga di kota lain di Jerman. Akhirnya banyak pelajar yang harus pulang lagi ke Indonesia karena mereka tidak dapat tempat di Studienkolleg manapun.

Oke, cukup dengan cerita nggak enaknya. Sekarang aku mau cerita enaknya kuliah di Jerman.

Di sini mahasiswanya bisa punya teman tidak cuma orang Indonesia, tapi juga dari negara lain. Apalagi jika dia aktif mengikuti kegiatan di luar kampus, lingkaran pertemanannya tentu akan lebih luas. Di kampus Jerman sendiri kegiatan kemahasiswaannya kurang hidup. Jadi sangat disarankan untuk memiliki aktivitas lain misalnya ikut pertukaran pelajar atau aktivitas lainnya.

Jerman itu tidak buta dengan budaya luar. Terutama di Berlin. Berlin itu seperti mangkok salad. Di sini kamu bisa bertemu dengan orang dari berbagai macam belahan dunia dan juga tidak perlu khawatir mengenai isu rasisme. Walaupun ada sebagian kecil yang kurang suka dengan orang asing (terutama muslim), lebih banyak orang yang sangat welcome terhadap Ausländer. Kuliah dan tinggal di Jerman itu menurutku worth the struggle. Walaupun butuh waktu cukup lama untuk mendapatkan gelar sarjana, tapi aku tidak menyesal. Karena aku bisa mencicipi bagaimana bagusnya sistem pendidikan di sini. Aku juga berkesempatan untuk kuliah di salah satu universitas terbaik di Eropa dan menggunakan fasilitas lab kampus yang canggih. Walaupun suka bikin pusing, bikin kangen rumah, bikin jiwa dan raga naik-turun, tapi semuanya terbayar dengan perubahan dan pelajaran yang aku dapat.

Di sini aku belajar untuk hidup mandiri, belajar untuk bertanggung jawab, untuk menyelesaikan segala permasalahan sendiri, dan yang pasti aku banyak belajar dari mentalitas orang-orang Jerman.
photo credit: femmeoutfit

Apakah aku merekomendasikan kamu untuk kuliah di Jerman? Tergantung. Tujuan orang berkuliah itu beda-beda. Ada yang karena ingin memiliki pekerjaan yang lebih baik, ada juga yang kuliah karena that's what people do after they graduate from high school.

Kuliah di luar negeri pada umumnya itu bukan buat senang-senang. Mungkin di Instagram atau Facebook terlihatnya keren. Tapi, sebenarnya itu bukan hal yang bisa disamakan dengan kuliah di Indonesia. Rasanya beda. Kesulitan yang harus dihadapi juga beda. Kapan lagi kita bisa merasakan datang ke mata kuliah dan di sana kita tidak mengerti apapun yang profesor katakan karena dia berbicara 'bahasa alien'?

Hanya di Jerman aku merasakan itu. Kapan lagi kita bisa merasa lost dan tidak tahu apa-apa selama tiga semester awal dan tiap hari rasanya ingin pulang saja ke Indonesia? Maka dari itu setiap aku diberitahu oleh adik-adik yang masih SMA kalau mereka minat untuk kuliah di Jerman, aku cuma iya-iya saja. Karena minat saja tidak cukup untuk menuntut ilmu di sini.

Butuh niat dan tekad yang bulat dan juga kesiapan menghadapi segala konsekuensi. Butuh kulit yang tebal dan mental baja karena suatu hari kita bisa saja dipermalukan di depan kelas oleh orang Jerman karena kita tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Butuh kesabaran yang ekstra, karena belum tentu di umur 25 tahun kita bisa mendapatkan gelar bachelor. Jerman bukan tempat yang tepat untuk orang-orang yang sekedar minat, sekedar ingin terlihat keren, atau sekedar ingin kuliah di luar negeri. Jerman itu tempat untuk orang-orang yang mau belajar hidup.

Mungkin kalau kamu baca tulisan ini kamu agak sedikit bertanya-tanya, "Memangnya sesusah itu, ya?" Penasaran? Kamu bisa bertanya tentang langsung ke aku melalui kolom komentar. Kamu bisa tanya aku soal:

1. Sistem pendidikan di Jerman

2. Biaya kuliah di Jerman

3. Kehidupan dan budaya di Jerman secara umum atau sebagai muslim


Aku akan jawab satu-satu pertanyaan darimu. Ditunggu pertanyaannya ya. Jika kamu ingin mengintip kegiatanku sehari-hari ketika di Jerman, kamu juga bisa kunjungi YouTube channelku berikut.


Thanks,

Gita Savitri Devi


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Gita Safitri Devi, YouTuber dari Indonesia yang Kini Kuliah di Jerman". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Gita Savitri | @gitasav

CREATE ARTICLE

Hey awesome, Join our TRIVIA community
"create articles and get the fans "

Most Views of This Week