Bahas Salah Satu Buku Keren di Festival Literasi Tangsel: Buku Antalogi “Situ, Kota & Paradoks”. Mengenang Kampung Halaman ala Esha Tegar Putra

Bahas Salah Satu Buku Keren di Festival Literasi Tangsel: Buku Antalogi “Situ, Kota & Paradoks”. Mengenang Kampung Halaman ala Esha Tegar Putra

220
Ia menceritakan bahwa sebuah kota telah merespon pemikiran manusia menjadi sebuah puisi.

Beberapa kontributor penyair besar seperti Chavcay Syarifullah hingga Esha Tegar Putra turut memeriahkan Festival Literasi Tangsel 2017 yang diselenggarakan pada tanggal 4-5 November 2017 kawasan Kadank Jurank Doank, Tangerang Selatan. Untuk pertama kalinya acara yang bertajuk literasi ini memperkenalkan sastra kepada masyarakat Tangerang, terutama para kaum muda-mudi.

Rangkaian acara hari pertama ini dibuka oleh Ir. Mochammad Taher Rachmadi, Dinas Bappeda Tangerang Selatan, dan Ketua Panitia Hilmi Fabeta hingga peserta undangan yang mengiring proses kelangsungan acara tersebut.

Dalam kesempatan kali ini Esha Tegar Putra, penulis dari buku Antologi “Situ & Kota Paradoks”, dan Chavchay Syarifullah, Ketua Dewan Kesenian Tangsel tengah mempersiapkan diskusi tentang kenangan masa-masa indah di kampung tercinta. Ia juga menuturkan bahwa banyak sekali kontributor dalam buku ini yang terinspirasi dari sebuah kota.

Esha Tegar Putra menyebutkan ia tidak melakukan banyak tentang proses dalam buku tersebut. Ia menceritakan bahwa sebuah kota telah merespon pemikiran manusia menjadi sebuah puisi. Ini yang dilakukan para penulis-penulis lain dalam buku tersebut. Sebagian besar penulis yang berkontribusi dalam peluncuran buku ini sepenuhnya terinspirasi dari sebuah kota. Peluncuran buku yang dilakukan di taman terbuka ini tidak hanya membicarakan perihal puisi saja, namun membahas pula seperti essai dan tema dari buku tersebut.

Sahabat Trivia, berikut ini adalah hasil diskusi yang menarik tentang buku antologi “Situ, Kota & Paradoks” di Festival Literasi Tangsel 2017.


1. Kenangan dalam kota kecil

Instagram Online

Dalam buku yang berisi beragam tulisan (75 puisi, 1 pantun, 11 cerpen, essai hingga 6 puisi visual) menceritakan bagaimana sebuah kota meninggalkan ingatan-ingatan masa kecil, sebagaimana seorang itu tumbuh dan berkembang. Inilah yang menjadi daya tarik buku ini yang mampu menafsirkan kota untuk masa depan.


2. Penggambaran kota menjadi puisi

Puisi “Fragmen Pondok Ranji” berhasil mengembalikan ingatan yang kolektif tentang proses jatuh bangunnya sebuah kota, seolah-olah dalam buku ini penulis mengajak masyarakat mengingat kembali tentang pembangunan kota tersebut.


3. Penempatan puisi dalam puncak bahasa

Digital Magazine

Sebagaimana tempat tertinggi dalam kebahasaan ialah puisi, bahasa yang mampu mensubjektifikasikan objek bahasa yang personal. Bahasa tersebut mampu memberikan pemahaman ilustrasi nasionalisme yang tergabung dalam imajinasi yang kuasa itu sehingga personalitas penyair menadapat tempat yang sejajar dalam personalitas para pembaca.

“Inilah yang menjadikan kata-kata dalam puisi tidak sama dalam bahasa komunikatif. Ada kalanya kita mengerti puisi di saat pada waktu yang tidak tepat kebersamaannya,” terang Chavchay.


4. Pendekatan yang deskriptif

Kumpulan puisi dalam buku ini lebih ke pendekatan deskriptif, pendekatannya jauh dari puisi-puisi daripada umumnya.


5. Kemudahan dalam membaca esai

Dalam membaca sebuah esai, terkadang para pembaca sering bingung dengan kalimat yang ditulis oleh penulis. Seringkali esai tersebut terlalu panjang sehingga para pembaca kesulitan menemukan inti dari pembahasan yang ada. Namun, menurut Chavchay, Ketua Panitia Dewan Kesenian Tangerang ini, sosok kepenulisan essai harus ada menyangkut rasa greget sastrawinya sehingga memunculkan bacaan tersendiri yang enak di mata para pembaca.


6. Tema dan warisan budaya

Kata News

Hanya dengan satu poin saja, tema bisa menggambarkan banyak hal. Bagaimana suatu penggambaran disamakan dnegan penggambaran yang lain. Sebuah pencapaian luar biasa ketika masyarakat sudah mampu menyadari pembuatan sebuah tempat yang disadari oleh dirinya sendiri. Inilah yang tergambarkan dalam buku tersebut.

BACA JUGA


Festival Bertema Literasi yang Sayang Buat Kamu Lewatkan di Akhir Tahun 2017. Yang Suka Sastra Wajib Hadir Nih!

Festival Bertema Literasi yang Sayang Buat Kamu Lewatkan di Akhir Tahun 2017. Yang Suka Sastra Wajib Hadir Nih!

Di sepanjang tahun ini saja, ada beberapa festival literasi yang sudah diselenggarakan, di antaranya Makassar International Writers Festival ...

Read more..

Dalam buku ini penulis berharap siapapun yang membacanya akan merasakan bagaimana rasanya terlahir kembali dan mengingat masa-masa tenang dan damainya sebuah desa atau kota kecil. Kemudian mencoba membuka kembali ingatan tentang pengetahuan yang baru dan merindunya seseorang akan lagu yang pernah mereka dengarkan pada masa itu. Pada akhirnya, mereka akan bangga dengan kota yang menyimpan sejuta filosofi.

Salam Literasi! Sampai jumpa di Festival Literasi Tangsel berikutnya. Semoga acara ini bisa rutin terlaksana di setiap tahunnya.


Penulis: Annisa Ramadhannia




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bahas Salah Satu Buku Keren di Festival Literasi Tangsel: Buku Antalogi “Situ, Kota & Paradoks”. Mengenang Kampung Halaman ala Esha Tegar Putra". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Trivia | @triviaid

Real stories of real life people

Silahkan login untuk memberi komentar