Begini Pengalaman Merayakan Idul Fitri di Inggris ala Mahasiswa Indonesia

Photo: Dokumen Pribadi

Begini Pengalaman Merayakan Idul Fitri di Inggris ala Mahasiswa Indonesia

1.2K
Tadinya saya sempat ragu apakah Idul Fitri di Inggris akan semarak seperti di Indonesia. Ternyata, kami tetap bisa merayakannya dengan penuh kegembiraan. Ini cerita kami.

Sejujurnya salah satu hal yang paling saya khawatirkan sebelum memasuki bulan Ramadhan adalah lama waktu puasa di Inggris yang mencapai 19 jam. Saya bahkan sempat merasa pesimis apakah saya bisa kuat berpuasa tanpa mengganggu aktivitas sehari-hari. Tetapi setelah menjalaninya, ternyata dugaan saya salah besar. Entahlah, apa ini hanya perasaan saya saja, yang jelas saya merasa puasa 19 jam itu tidak seberat yang saya pikirkan. Bahkan, ada saat saya merasa puasa di Indonesia (lebih tepatnya Jakarta) justru lebih banyak godaannya dan lebih berat. Ini bisa jadi karena beberapa faktor.


Menyesuaikan Aktivitas dengan Jam Berbuka dan Sahur

Pertama, hal ini dimungkinkan karena pola tidur dan rutinitas. Jadi selama bulan puasa, saya mengubah pola tidur saya, dari jam berbuka puasa sampai sahur saya mengerjakan tesis dan baru tidur sekitar jam lima atau enam pagi, lalu bangun jam 12 siang. Lalu setelah itu menunggu zuhur sekitar jam satu, lalu ke perpustakaan mengerjakan tesis sampai jam 8 malam. Pola aktivitas seperti ini membuat hari jadi terasa berlalu lebih cepat. Kedua, mungkin karena saya menjalaninya dengan hati senang. Salah satu yang membuat saya senang adalah karena selama bulan Ramadhan ini saya tinggal bersama di salah satu rumah teman saya, Dini, yang sama – sama suka masak. Alhasil kami hampir selalu masak bareng untuk menyiapkan menu buat buka puasa dan sahur. Hanya pada saat salah satu dari kami mendapatkan tamu bulanan saja, yang akhirnya membuat kami tidak masak bersama. Alasan lainnya adalah karena cukup banyak teman saya yang beragama Islam di sini, baik sesama Indonesia maupun non-Indonesia, sehingga beberapa kali kami mengadakan buka puasa bersama.


Melangsungkan Salat Id di BCM


Hal yang sama juga saya rasakan saat Hari Raya Idul Fitri. Sekitar pukul 7 pagi, saya dan teman – teman lainnya sudah siap berangkat salat ke BCM, sebuah masjid utama di Bournemouth. Meskipun masjid ini dianggap sebagai central mosque, jangan dibayangkan bentuknya seperti masjid di Indonesia yang berukuran besar. Tidak ada aristektur khas seperti kubah lengkap dengan tanda bintang dan bulan sabit. Masjid yang ada di sini sangat kecil dan hampir tidak ada hal yang membuatnya tampak berbeda dari rumah-rumah lain di sekitarnya, selain sebuah papan di depan pintu yang bertuliskan “Bournemouth Islamic Centre and Central Mosque”. Namun terlepas dari tempatnya yang kecil, hal tersebut sama sekali tidak mengurangi suasana lebaran dan rasa bahagia kami di hari kemenangan ini.


Menikmati Santapan Lebaran ‘Ronde’ Pertama

="">


Setelah selesai salat, kami langsung menuju salah satu rumah salah satu keluarga Indonesia untuk menyantap makanan, layaknya yang biasa dilakukan saat merayakan lebaran di Indonesia. Sesampainya kami di sana, berbagai makanan khas lebaran sudah dihidangkan di meja. Mulai dari opor, sambal kentang ati, rendang, lengkap dengan ketupat serta es buah segar. Menu makanan yang ala kadarnya, serta merayakan dengan teman-teman yang tidak lebih dari 15 orang ini, semua itu memang terlihat sangat sederhana. Apalagi jika dibandingkan dengan apa yang kami dapatkan sebelumnya di Indonesia, berbagai variasi makanan dengan mengunjungi berbagai kerabat. Namun, justru kesederhanaan tersebut yang membuat lebaran kali ini terasa spesial. Membuat kami bisa lebih dekat dengan satu sama lain, serta menikmati setiap suap makanan dengan cita rasa khas nusantara.

Baca juga: Puasa di Amerika Serikat dan Jadi Minoritas Memberiku Makna yang Lebih tentang Ramadhan


Menikmati Cuaca Bournemoth yang Sejuk


Kebetulan saat itu lebaran tepat jatuh di hari Sabtu, didukung dengan cuaca Inggris yang sangat bagus dengan matahari yang bersinar terang, namun angin sepoi–sepoi turut menambah semarak suasana. Tak heran, suasana di sekitar kota pun ramai oleh masyarakat lokal yang ingin menikmati cuaca seperti itu yang jarang dimiliki negara ini. Sambil berjalan-jalan menyusuri taman, pusat kota, hingga pantai.


Menikmati Santapan Lebaran ‘Ronde’ Kedua


Akhirnya setelah merasa lelah berkeliling selama hampir satu jam, kami memutuskan untuk mengunjungi salah satu rumah teman kami lainnya untuk melanjutkan santapan makanan khas lebaran sesi kedua. Supaya lebih terasa suasana lebarannya, kami juga tidak mau kalah untuk mengunjungi satu rumah ke rumah lainnya. Akan tetapi, kali ini agak berbeda dari sebelumnya, karena kami sendiri yang memasak dan menghidangkan makanan. Setelah berdiskusi dan melihat bahan makanan yang ada, kami memutuskan untuk membuat ketoprak. Dilanjutkan setelahnya dengan memakan kue putri salju yang baru dikirim beberapa hari yang lalu oleh keluarga teman kami. Ahh, nikmat sekali rasanya! Tanpa sadar, waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Ternyata, kami sangat menikmati hari ini dengan semua kegiatan kami yang kelihatannya sederhana. Saat itu, saya menyadari satu hal. Meskipun merayakan Idul Fitri di negara dengan mayoritas penduduknya bukan muslim, tidak mengurangi kebahagiaan yang biasa saya rasakan saat merayakannya di Indonesia.

Baca juga: Beginilah Rasanya Merasakan Keindahan Ramadhan Tanpa Masakan Ibu


Kamu punya kisah menarik dan menginspirasi seperti ini? Jika iya, kamu pun bisa menulis dan membagikan kisah menarik serta inspiratifmu di trivia.id. Kami memberi ruang bagi Sahabat Trivia untuk membagikan kisah inspiratif dan tulisan yang berhubungan dengan 'Life and People', 'Entertainment', 'Food and Travel', 'Technology'. Kamu bisa kirim kisah dan tulisanmu ke hello@trivia.id.




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Begini Pengalaman Merayakan Idul Fitri di Inggris ala Mahasiswa Indonesia". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Poeti Nazura Gulfira Akbar | @nazuragulfira

A full time PhD student; a part time personal blogger.

Silahkan login untuk memberi komentar