Begini Rasanya Kehilangan Diri Sendiri dalam Meraih Cita-Cita. Tidak Pernah Menang dalam Kompetisi Sampai dan Jadi Benci Melihat Kebahagiaan Orang Lain

Begini Rasanya Kehilangan Diri Sendiri dalam Meraih Cita-Cita. Tidak Pernah Menang dalam Kompetisi Sampai dan Jadi Benci Melihat Kebahagiaan Orang Lain

328
Mempunyai cita-cita tinggi dan sering mendapatkan ejekan dari orang sekitar? Jadilah orang yang kuat, jangan sampai kamu kehilangan diri sendiri seperti saya. Sangat menyesal!

Mempunyai cita-cita yang tinggi dan terdengar mustahil di telinga kebanyakan orang menjadi hal yang sangat menantang bagi saya. Cita-cita ini sudah saya tanamkan sejak saya memasuki masa SMP, ketika saat sepupu saya mengunjukkan video musik dari boyband legendaris asal Korea, Super Junior. Dari situlah kehidupan yang lebih berwarna dimulai.


Kisah singkat bagaimana saya bertemu dengan mereka yang memiliki satu tujuan

Photo credit: idrus

Mempunyai ide gila menjadi idol group internasional saat itu membuat saya mati-matian mencari teman yang ingin bergabung dan memiliki tujuan gila seperti saya, bahkan beberapa dari teman sekolah saya menganggap bahwa apa yang saya cita-citakan terdengar sangat mustahil melihat idol group di Indonesia kurang diperhatikan. Berawal dari 13 anggota, ternyata tidak mudah untuk menyatukan seluruh anggota, ada yang pergi secara tiba-tiba meninggalkan grup sampai nyaris tertipu oleh anggota sendiri. Akhirnya saya bertahan dengan 3 sahabat saya untuk melanjutkan perjalanan kami.


Saya tidak pernah mendapatkan kemenangan dari tahun 2012 sampai 2016

Photo credit: wordpress

Hanya berbekal pengetahuan pada musik K-pop saja, mengantarkan saya pada pintu gerbang awal perjalanan saya. Tidak mempunyai bakat dalam menari dan menyanyi, namun sempat mengikuti kedua kegiatan tersebut di sekolah membuat saya harus latihan ekstra untuk menyeimbangi teman-teman saya yang ternyata sudah memiliki kedua bakat tersebut. Merasa iri saat itu? Sangat! Kenal dengan panggung sejak tahun 2012, perjalanan saya sampai tahun 2016 tidak menghasilkan kemenangan, hanya mendapatkan sertifikat sebagai tanda bahwa saya dan teman-teman berpartisipasi sebagai peserta lomba. Tidak pernah lebih dari itu.


Saya harus berpisah dengan keluarga kecil

Photo credit: oxforddictionaries

Tahun 2016 merupakan tahun terpahit bagi saya. Saya dan ketiga sahabat saya harus membubarkan grup yang sudah lama kami pertahankan. Saat itu, saya merasa sakit hati, seperti merasa dikhianati dan kesal pada mereka. Tapi, saya sadar, semakin bertambahnya umur, kita harus melihat realita yang ada, tujuan dan arah hidup kita yang sebenarnya. Akhirnya saya paham bahwa masing-masing dari mereka mempunyai tujuan masing-masing, mimpi dan harapan yang baru. Sementara saya masih berjuang dalam perjalanan saya, sendiran tanpa keluarga kecil saya. Jauh di lubuk hati, saya merasa sangat ketakutan untuk melangkah sendiri.


Saya membenci diri sendiri dan kehilangan arah hidup

Photo credit: newhdwallpapers

Ketakutan saya dalam melangkah sendirian ternyata berdampak buruk. Saya lebih mudah untuk marah-marah, menjadi sangat sensitif bahkan sampai benci melihat teman atau orang lain bahagia. Saya kehilangan arah hidup dan juga cita-cita. Tidak terima dengan kenyataan akan kesendirian, membuat saya membenci diri sendiri setiap malamnya. Saya gelisah dan susah untuk tidur. Menjalani kehidupan sehari-hari juga tidak ada semangatnya. Semangat yang hilang ini bukan hanya berpengaruh untuk kondisi fisik, saya juga harus mengalami penurunan hasil IPK semester saya. Saya hidup dengan menggunakan topeng saat itu, menjadi orang lain dan tanpa ada yang tahu bahwa saya benar-benar tidak bahagia.


Bagaimana dengan respon kedua orang tua saya?

Photo credit: Shutterstock

Orang tua adalah salah satu orang terdekat yang “selalu” mendukung. Sampai saat ini, saya tidak menemukan tanda-tanda dukungan dari orang tua mengenai cita-cita saya yang satu ini. Kecintaan saya pada bidang seni yang awalnya saya perkirakan lancar-lancar saja, nampaknya hanya menjadi khayalan layaknya drama Korea saja. Setelah lulus SMA, saya ingin sekali mengambil beasiswa S1 jurusan seni musik, namun harus saya kubur dalam-dalam harapan itu ketika salah satu dari mereka mengatakan, “Mau jadi apa kamu?” dan untuk pertama kalinya, saya merasa sakit hati kepada orang tua saya. Entah orang tua saya tahu atau tidak tentang cita-cita, mereka hanya tahu saya selalu meninggalkan rumah pada weekend untuk latihan dan tampil. Saya takut, benar-benar takut untuk mengungkapkan apa yang saya inginkan, yang saya cita-citakan.


Apakah menurutmu saya hanya membuang-buang waktu?

Photo credit: middleeasteye

Tidak jarang saya memikirkan hal ini setiap malam, apakah saya hanya membuang-buang waktu? Latihan terus menerus hingga larut malam, namun tidak kunjung menjadi pemenang. Setiap perlombaan, setiap team kurang lebih harus mengeluarkan uang sebesar Rp 200.000 untuk registrasi lomba dan uang lainnya untuk saya membeli kostum dan menyewa studio. Seakan semua usaha saya tidak membuahkan hasil yang membanggakan, terlebih untuk membuat kedua orang tua mulai mempercayai bahwa anaknya bisa sukses dengan pilihannya.

Omongan yang menyakitkan itu pula membuat saya mempunyai ruang yang sangat terbatas untuk mengekspresikan kemampuan saya. Kalau hanya latihan menari di kamar, itu masih leluasa untuk saya lakukan. Lalu, bagaimana untuk melatih suara saya? Miris memang, setiap malam yang saya lakukan adalah membuka lemari pakaian saya, mengeluarkan beberapa barang untuk mendapatkan space kosong untuk saya tempati. Setelah dirasa space tersebut sudah cukup, saya masuk ke dalam lemari pakaian dan menutupnya rapat-rapat. Di dalamnya saya hanya jongkok dan memulai latihan menyanyi. Hanya itu yang bisa saya lakukan.


Saya benar-benar memikirkan mereka

Photo credit: curiosmindmagazine

Kebanyakan dari teman-teman saya yang juga mengikuti dance cover hanya untuk have fun saja, sementara saya adalah menjadi dance cover sebagai jembatan untuk meraih cita-cita. Terlihat jelas antara yang bermain-main saja dan yang benar-benar serius dalam suatu bidang. Tidak jarang mereka yang bermain-main justru menjadi pemenang dibanding yang benar-benar serius, seperti saya. Menggeluti apa yang sedang saya lakukan, saya pun menjalaninya dengan senang hati. Rasa selalu ingin belajar tarian dan lagu-lagu baru, sampai mempelajari penampilan si artis yang berada di panggung lebih menyenangkan dibanding saya harus berhadapan dengan pelajaran-pelajaran di kampus.

Namun, tidak melulu saya merasa bahagia di bidang ini, ada waktu saat saya harus dihadapkan berbagai macam cobaan yang membuat saya stres, marah, bahkan sampai menangis. Salah satunya adalah ketika saya memikirkan orang-orang yang saya cintai, keluarga, dan sahabat-sahabat saya di luar sana yang mengetahui bahwa temannya mempunyai mimpi yang mustahil untuk dicapai, boleh dibilang seperti itu. Sahabat-sahabat saya selalu mendukung ide gila saya, bahkan keluarga kecil yang sudah berpisah, namun mereka tetap mendukung saya, menonton ketika saya berada di atas panggung. Saya benar-benar memikirkan mereka. Saya ingin membahagiakan mereka, membuat bangga mereka, dan ingin membuat mereka mengatakan pada orang-orang sekitarnya, “Dia hebat, dia teman saya.” atau “Dia hebat, dia anakku.” Cara saya mungkin salah karena terlalu memikirkan mereka yang pada akhirnya membuat diri sendiri terluka dan belum seutuhnya bahagia.


Let’s continue the journey

Photo credit: wholelifechallange

Setelah cukup lama saya berhenti dari aktivitas yang saya sukai, pertengahan tahun 2017 ini saya memberanikan diri untuk mendatangi salah satu event lomba yang letaknya cukup jauh dari rumah saya. Entah datangnya dari mana, saat itu saya berpikir “Sudah lama saya merenungi dan menyesali semuanya. Lelah menangis tidak membuat saya berkembang, saya harus bagaimana?”

Sesampainya saya di event tersebut, bulu kuduk saya berdiri, saya benar-benar merinding. Bukan merinding karena rasa takut, terlebih ke rasa rindu. Saya benar-benar rindu suasana ini. Saya berjalan ke lantai atas, tidak ingin menyatukan diri dengan penonton yang sudah memenuhi sekeliling panggung. Di lantai atas, saya melihat melihat pemandangan yang mengajak saya bernostalgia ke tahun 2012. Melihat teriakan penonton yang antusias, menjadi napas untuk saya berada di atas panggung. Beberapa di antara mereka adalah teman-teman saya yang mendukung, obat untuk rasa grogi yang berlebihan dan tatapan tajam juri yang menilai performa setiap peserta, bagai seorang hakim dalam persidangan.

Saya menangis saat itu. Di samping teringat kenangan masa lalu, bagian terkecil dari diri saya mengatakan, “Kamu memang kehilangan teman-teman, harapan, semangat untuk hidup dan dukungan dari orangtuamu. Namun, cita-citamu tidak pernah hilang dari dirimu. Buat apa kamu menyerah?”

Rasa rindu yang tidak dapat ditahan lagi membuat saya yakin kembali bahwa saya pantas di sini. Walaupun saya sudah tidak bersama lagi dengan sahabat-sahabat saya, masih belum berhasil meruntuhkan tembok pembatas antara saya dan kepercayaan orang tua saya. Menyerah bukanlah jawabannya. Hari ini saya berjanji, untuk tidak kehilangan diri sendiri kedua kalinya dan jauh lebih berkembang dari sebelumnya. Tentunya dengan teman-teman baru saya saat ini. Dan jika Tuhan memberikan saya kesempatan, saya akan mewujudkan harapan saya yang pernah diruntuhkan, yaitu menjadi sarjana di bidang seni.

BACA JUGA


Begini Rasanya Melalui Masa Remaja di Keluarga yang Berantakan. Perjuangan Manis yang Layak untuk Diceritakan

Begini Rasanya Melalui Masa Remaja di Keluarga yang Berantakan. Perjuangan Manis yang Layak untuk Diceritakan

Sahabat Trivia, mungkin bagi kamu, masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Kenangan akan masa remaja tentu masih terasa manis hingga ...

Read more..

Sahabat Trivia, jangan pernah merasa waktumu terbuang sia-sia untuk mencapai cita-citamu ya! Tetap berusaha dan berdoa kepada Tuhan. Selamat melanjutkan perjalananmu dalam meraih cita-cita.


#BeginiRasanya #IniCeritaGue




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Begini Rasanya Kehilangan Diri Sendiri dalam Meraih Cita-Cita. Tidak Pernah Menang dalam Kompetisi Sampai dan Jadi Benci Melihat Kebahagiaan Orang Lain". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Nadia Umara | @nadiaumara

Silahkan login untuk memberi komentar