Begini Rasanya Mengalami Kepepet Tidak Ada Uang. Di Tengah Kebingungan yang Ada, Aku Bersyukur di Dunia Ini Masih Ada Orang Baik

photo credit: drjosephjensen

Begini Rasanya Mengalami Kepepet Tidak Ada Uang. Di Tengah Kebingungan yang Ada, Aku Bersyukur di Dunia Ini Masih Ada Orang Baik

305
Kadang di dunia yang makin modern ini, kita sempat berpikir masih adakah kepedulian dari orang-orang sekitar?

Sahabat Trivia, aku pernah merasakan kondisi kepepet di mana aku tak punya uang dan membutuhkannya. Kadang di dunia yang makin modern ini, kita sempat berpikir masih adakah kepedulian dari orang-orang sekitar? Ternyata aku menemukan jawabannya melalui kisahku. Semoga kamu juga bisa menemukan dahsyatnya kekuatan kebaikan, Sahabat Trivia.



Berawal dari niat mengantar teman ke bandara

Saat itu, teman satu kamar sekaligus teman satu kampungku akan pulang ke kampung halaman kami yang terletak di sudut provinsi Sumatera Barat. Karena hari ini adalah hari terakhir dia di sini, aku memutuskan untuk turut ikut mengantarnya sampai bandara bersama dengan teman yang lain. Kami berempat, yaitu aku, teman satu kampungku, dan dua orang teman kami yang lain memtuskan berangkat pagi-pagi sekali pukul 06.30 karena pesawat akan take off pukul 08.30 WIB.

Berhubung jarak bandara dengan tempat kami tinggal adalah sekitar satu jam, kami berangkat mengendarai motor. Janji pukul 06.30 akhirnya terealisasi tepat pada pukul 07.00 WIB. Teman yang memboncengku sempat meminta kami untuk singgah di POM bensin terdekat karena menurutnya bensinnya tinggal sedikit dan takut habis di tengah jalan. Aku mengiyakan dengan tidak serius. Kami pun berangkat. Aku dibonceng dan teman satu kampungku juga dibonceng. Awalnya motor kami masih beriringan, namun seperempat perjalanan kami mulai terpisah jauh.

photo credit: mollymaccartney

Tragedi kehabisan bensin di tengah jalan

Ketika melewati POM bensin pertama, temanku meminta kami singgah untuk mengisi bensin. Namun, ternyata aku lupa membawa uang. Begitu pula temanku. Aku mengajaknya untuk terus berjalan sampai bertemu dengan ATM atau POM bensin yang ada ATMnya. Kami belum menemukan ATM dan temanku mulai cemas karena kami mulai memasuki jalan lurus, yaitu jalan yang kanan dan kirinya hanyalah rawa-rawa dan lahan kosong. Aku masih agak santai dan berpikir bensin kami masih cukup sampai melewati jalan lurus.

Namun, tidak berapa lama suara mesin motor yang kami kendarai semakin lama semakin rendah, mulai batuk-batuk, dan akhirnya berhenti sama sekali. Kami panik dan aku berkali-kali menghubungi temanku, namun tidak diangkat. Aku mulai bercanda dan mengajak temanku menggadaikan apa yang bisa digadaikan. Temanku tak terpengaruh dan panik sambil menunjukkan jam tangannya padaku. Pukul 07.50! Bisa-bisa temanku tidak jadi check in karena tas yang akan masuk bagasi masih bertengger di motor kami. Aku melihat sekitar dan Alhamdulillah tepat di seberang kami ada warung kecil yang juga menjual bensin eceran.


Sempat meminta bensin di warung

Waktu terus berjalan, aku memberanikan diri untuk ngutang dulu di warung tersebut. Ada seorang bapak dan istrinya beserta dua orang anak laki-laki penghuni warung tersebut dan sepertinya mereka memang tinggal di ruangan yang sesak itu. “Assalamualaikum, Pak. Kami mau beli bensin. Motor kami mati kehabisan bensin, tapi saya lagi nggak pegang uang kas dan tidak ada ATM di sini," aku menjelaskan panjang lebar tanpa basa-basi karena keburu waktu. Si bapak yang sedang menyapu tanpa rasa curiga langsung menyuruhku mengambilnya. Aku merasa tidak enak dengan kerelaan bapak tersebut.

“Saya tinggalin KTP saya ya, Pak?” aku menawarkan. “Nggak usah, dek. Ambil aja dulu,” jawab si bapak. Aku makin tidak enak dan mulai mengeluarkan KTPku dari dompet. Si bapak memberi isyarat menolak dengan tangannya. “Memangnya mau ke mana, dek?” Tiba-tiba si ibu muncul keluar dari balik etalase warung. “Mau ke bandara mengantar teman. Takut telat soalnya barangnya masih ada sama kami,” jelasku. “Oh gitu. Tapi, ini masalahnya titipan orang, dek,” si ibu sepertinya kurang percaya padaku.


Bantuan berupa bensin gratis

Aku maklum bahwa siapa pun pasti tidak mudah percaya dengan orang yang baru dikenal. “Oh gitu, bu. Berarti nggak bisa ya.” aku tersenyum maklum. “Biarlah, ambil aja. Nggak papa,” tiba-tiba si bapak langsung menyela dan menatap istrinya seolah membri isyarat ‘kasihan anak ini’. Istrinya pun nurut dan menyuruhku mengambil bensin dalam botol minuman tersebut.

Berkat bensin satu botol itu, akhirnya kami sampai 15 menit sebelum take off. Selepas mengantar temanku, aku sudah menyiapkan uang yang baru kutarik dari mesin ATM dan sengaja kulebihkan untuk membayar bensin tadi. Walaupun tidak banyak, setidaknya bentuk ucapan terima kasihku yang besar atas bantuan si bapak dan si ibu tersebut. Ketika sampai di warung tersebut, aku tidak melihat si bapak dan si ibu yang ada hanya anak laki-laki mereka yang sedang asyik bermain.


Kejujuran tak akan pernah salah. Kejujuran berbuah kebaikan.

“Dek panggilin ibu atau ayahnya ya. Kakak mau beli,” pintaku pada anak tersebut. Bocah itu berteriak memanggil ibunya tanpa beranjak dari tempat mainnya. Tidak berapa lama si ibu yang keluar. “Mau bayar bensin yang tadi, bu,” kataku. Mungkin si ibu agak kaget karena ternyata aku benar-benar menepati janjiku. “Oh iya, 10 ribu, dek,” jawabnya. Aku memberikan selembar 20 ribuan sambil mengucapkan terima kasih dan berniat langsung pergi. “Dek, uangnya sisa 10 ribu lagi. Tunggu ya,” kata si ibu. Aku mencegat langkah si ibu, “Ambil aja kembaliannya, Bu”. Lagi-lagi si ibu tetap kekeuh, “Jangan, dek. Harganya cuma 10 ribu kok. Jangan gitu. Ibu jadi nggak enak,” jawab si ibu.

Aku langsung berlari kecil menuju temanku yang sedang menunggu di atas motor. Namun, baru beberapa langkah, si anak langsung memegang tanganku, “Ini kak kembaliannya 10 ribu lagi”. Ya ampun, si ibu membuatku terharu. Aku pun menyerah dan berbalik mengucapkan terima kasih dan si ibu balas tersenyum.

BACA JUGA


Begini Rasanya Pertama Kali Memakai Jilbab. Awalnya Aku Takut, Tapi Setelahnya Rasanya Tak Terduga

Begini Rasanya Pertama Kali Memakai Jilbab. Awalnya Aku Takut, Tapi Setelahnya Rasanya Tak Terduga

Dalam takut, kukenakan hijab. Dalam takut, kuterus berjalan. Dalam takut, hijab melindungiku

Read more..

Temanku berbisik, “Kamu menghargai kebaikan mereka dengan memberi uang lebih, tetapi mereka menghargai kejujuranmu dengan tidak menerima uangmu.” Kebaikan dan kejujuran tidak akan pernah bisa dinilai dengan uang.


#IniCeritaGue #BeginiRasanya





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Begini Rasanya Mengalami Kepepet Tidak Ada Uang. Di Tengah Kebingungan yang Ada, Aku Bersyukur di Dunia Ini Masih Ada Orang Baik". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Nursittah Nasution | @nursittahnasution

Silahkan login untuk memberi komentar