Begini Rasanya Menjadi Anak Rantau. Mencoba untuk Memperluas Zona Aman dan Membuka Diri Terhadap Pandangan Baru

image credit: project52pro2016

Begini Rasanya Menjadi Anak Rantau. Mencoba untuk Memperluas Zona Aman dan Membuka Diri Terhadap Pandangan Baru

326
Tidak ada salahnya mencoba untuk melihat dunia di luar kebiasaan yang dijalani sekarang. Pada akhirnya, banyak hal yang akan didapatkan.

Saya adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Di rumah, dapat dikatakan kalau saya adalah anggota keluarga yang paling manja. Dalam artian, saya masih sangat membutuhkan bantuan dari orang tua dan kedua kakak saya. Semenjak saya kecil, ayah saya selalu berkata, "Dimana pun kamu berada, kamu tidak perlu takut. Kamu berhak melangkahkan kakimu ke mana-mana. Yang terpenting adalah kamu bisa menjaga diri kamu sendiri." Perkataan itu terpatri kuat dalam benak saya dan tentunya membuat saya meyakini bahwa saya bebas untuk pergi ke mana saja.

Pada awalnya, tidak pernah sekali pun terlintas dalam pikiran saya untuk tinggal jauh dari orang tua. Tinggal di salah satu kota besar di bagian timur Pulau Jawa, saya rasa cukup. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tingkat pendidikan di kota saya cukup mumpuni, dan pastinya, saya yakin bahwa tidak masalah ketika saya harus menetap di kota kelahiran saya.

Namun demikian, ketika saya duduk di bangku sekolah menengah ke atas, saya pun menyadari satu hal, "bukankah saya tidak akan berkembang ke mana-mana kalau saya tetap berada di sini? Mengapa saya tidak mencoba untuk tinggal jauh dari orang tua? Mencoba mencari pengalaman caru di tempat yang belum pernah saya kunjungi. Sendirian." Berkali-kali pikiran itu terus menghampiri saya. Saya pun mulai mencari informasi kemungkinan saya benar-benar bisa melanjutkan pendidikan di luar kota.

Sebelum saya menyampaikan niatan saya pada orang tua, saya mencoba untuk mengobrol terlebih dahulu dengan kakak kedua saya. Saya pun mengutarakan keinginan saya untuk mengambil kuliah di kota yang terletak dekat dengan Ibukota. Saya senang karena nyatanya respons kakak saya begitu positif. Ia pun membantu saya dalam meyakinkan orang tua saya untuk mengizinkan saya merantau. Terlahir menjadi anak bungsu memang tidak akan membuat saya mudah diizinkan. Kakak pertama saya pun sempat menentang keputusan saya. Akan tetapi, setelah saya berusaha meyakinkan dan menguatkan niat saya, akhirnya orang tua dan kakak pertama saya mengizinkan saya.


Bukan keluar dari zona aman, tapi memperluas zona aman yang dimiliki

image credit: theodisseyonline

Di kampung halaman saya, sangat jarang orang yang melanjutkan pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi. Kalau ada pun, pasti mereka melanjutkan di kota tersebut. Dapat dibilang, saya adalah orang pertama yang mendobrak tradisi tersebut. Iya, saya yang pertama kali merantau dengan alasan pendidikan. Tidak seperti orang lain yang merantau karena untuk bekerja. Pada dasarnya, banyak sekali orang-orang yang mispersepsi akan perantauan yang saya lakukan. Banyak sekali orang yang mengira saya pergi ke ibu kota untuk bekerja. Padahal, sama sekali bukan. Meskipun setiap tahunnya saya sudah menjelaskan, di tahun selanjutnya asumsi tersebut masih ada.

Selain itu, ada pula yang mempertanyakan, "Kenapa memilih berkuliah di tempat yang jauh? Kenapa tidak di sini saja?" Bagi saya, nyatanya masih banyak orang yang berasumsi bahwa "pindah" adalah satu hal yang salah. Ketika saya akan lulus SMA, kebanyakan teman saya tidak diizinkan untuk kuliah di luar kota. Alasan yang dilontarkan pun cukup klasik, "Bagaimana kalau nanti pergaulan di sana tidak benar?" Saya rasanya ingin tertawa. Pergaulan tidak benar itu yang seperti apa? Siapa pula yang mendefinisikan benar atau tidak.

Ada satu perkataan dari salah satu senior yang saya ingat sampai sekarang,

"Ketika kamu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di luar kota, itu bukan berarti kamu keluar dari zona aman kamu. Yang harus kamu tahu adalah itu adalah usaha kamu untuk memperluas zona aman yang kamu miliki."

Tentunya, saya setuju dengan perkataan senior saya. Saya selalu percaya bahwa perpindahan yang saya lakukan ini bukanlah satu hal yang salah. Ini hanya upaya saya untuk memperluas zona aman saya. Selain itu, dengan merantau, membuat saya memahami arti dari kemandirian itu sendiri. Saya tidak dapat membayangkan ketika saya harus menetap di kota saya sendiri, apakah saya bisa segera mandiri? Status saya sebagai anak bungsu tentunya membuat stereotipe bahwa saya anak yang manja dan tidak dapat berusaha sendiri pasti akan selalu melekat. Jadi, saya ingin menjadikan perantauan saya ini sebagai bukti bahwa saya mampu untuk hidup sendiri tanpa keluarga.


Menjadi lebih terbuka dan memahami hidup

image credit: darlingmagazine

Awalnya, saya merasakan culture shock yang lumayan di awal kepindahan saya. Banyak hal yang berbeda yang saya temui. Akan tetapi, lambat laun, pemikiran saya pun menjadi jauh lebih terbuka. Saya menjadi jauh lebih kritis dan tentunya tidak serta-merta menerima apa yang saya dapatkan. Saya selalu mempertanyakan apa dan mengapa. Di satu sisi, pandangan saya akan satu hal menjadi jauh berbeda dengan pandangan saya sebelumnya. Sebagai contoh, dulu saya masih terbawa stereotipe bahwa laki-laki harus kuat dan perempuan adalah kebalikannya. Sekarang, saya menyadari bahwa pemikiran saya yang dulu hanyalah pemikiran konvensional yang bahkan tidak jelas juntrungannya. Maka dari itu, sekarang saya adalah jenis orang yang sangat menghargai hak dari orang lain. Saya tidak peduli dia adalah seorang perempuan, laki-laki, tua, muda, kaya, ataupun miskin. Buat saya, itu bukanlah suatu masalah. Saya percaya bahwa setiap kisah yang ada merupakan proses pembelajaran untuk saya.

Kemudian, saya pun mulai menghargai kehidupan yang saya miliki karena saya melihat bukti bahwa tidak semua orang benar-benar lebih beruntung dari saya. Banyak sekali hal-hal yang tidak saya sadari sebelumnya. Betapa masih banyak orang-orang yang keadaannya tidak seberuntung saya. Bukankah kemudian hal tersebut membuat saya merasa bersyukur akan kehidupan yang saya jalani?

Menjadi seorang perantau bukan berarti saya tidak menjadi saya yang dulu. Saya percaya, saya yang sekarang ini adalah hasil tempaan diri saya sendiri. Saya jauh lebih menghargai hidup dan mencoba terbuka dengan semua hal. Saya pun menjadi lebih mandiri dari sebelumnya. Bagi saya, berpindah bukan satu masalah besar. Itu hanyalah sebuah proses pembentukan diri seseorang. Toh, pada akhirnya, banyak hal yang saya rasakan manfaatnya. Jadi, satu hal yang ingin saya ucapkan, terima kasih, Ayah, ibu, dan kakak.

"Terima kasih telah mengizinkan Puji untuk merantau dan menenggak seluruh pengalaman hidup yang tidak pernah sekali pun Puji bayangkan sebelumnya."

BACA JUGA


Begini Rasanya Kehilangan Diri Sendiri dalam Meraih Cita-Cita. Tidak Pernah Menang dalam Kompetisi Sampai dan Jadi Benci Melihat Kebahagiaan Orang Lain

Begini Rasanya Kehilangan Diri Sendiri dalam Meraih Cita-Cita. Tidak Pernah Menang dalam Kompetisi Sampai dan Jadi Benci Melihat Kebahagiaan Orang Lain

Mempunyai cita-cita tinggi dan sering mendapatkan ejekan dari orang sekitar? Jadilah orang yang kuat, jangan sampai kamu kehilangan diri ...

Read more..


#BeginiRasanya #IniCeritaGue




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Begini Rasanya Menjadi Anak Rantau. Mencoba untuk Memperluas Zona Aman dan Membuka Diri Terhadap Pandangan Baru". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Puji P. Rahayu | @PujiPRahayu

The Sun and the Red Glow of the Dawn. Passionate on reading and writing. Grateful for everything that happened in my life.

Silahkan login untuk memberi komentar