Dari Film 'Marlina, si Pembunuh dalam Empat Babak', Inilah Bukti Misoginis Masih Ada Hingga Kini!

photo credit: Variety

Dari Film 'Marlina, si Pembunuh dalam Empat Babak', Inilah Bukti Misoginis Masih Ada Hingga Kini!

712
Di balik tegarnya seorang Marlina dalam mencari keadilan, film besutan sutradara muda ini juga menyisipkan nilai kebudayaan dan sosial terutama untuk lingkungan hidup Marlina yang masih menjunjung budaya patriarki dan pandangan misoginis.

Film 'Marlina, si Pembunuh dalam Empat Babak' yang pernah mendapat penghargaan dalam kategori dalam ajang Toronto International Film Festival (TIFF) 2017 ini menggambarkan situasi kehidupan seorang wanita yang berjuang mempertahankan harga diri dan kehormatannya sebagai seorang wanita. Film yang digarap oleh Mouly Surya ini tidak hanya menggambarkan tentang keindahan langit Sumba yang membentang luas antara laut dan dataran tinggi saja, namun tentang bagaimana kehidupan bermasyarakat khususnya bagi kaum wanita asli sana.

Dalam film yang berdurasi kurang lebih 90 menit ini, sang sutradara tidak tanggung-tanggung untuk membebaskan karakter Marlina sebagai pembunuh berdarah dingin. Tidak ada drama-drama yang menggantung dalam diri Marlina, apalagi saat Marlina menenteng kepala seorang pemimpin perampok di atas kuda yang membawanya hingga menemukan keadilan.

Di balik tegarnya seorang Marlina dalam mencari keadilan, film besutan sutradara muda ini juga menyisipkan nilai kebudayaan dan sosial terutama untuk lingkungan hidup Marlina yang masih menjunjung budaya patriarki dan pandangan misoginis. Secara sederhana misoginis adalah ideologi patriarki untuk membenci atau memiliki prasangka negatif terhadap perempuan. Dari film 'Marlina, si Pembunuh dalam Empat Babak', inilah dampak buruk adanya sistem misoginis yang faktanya masih ada hingga kini.


Perempuan masih selalu dijadikan objek, mau tidak mau harus mau

photo credit: imdb

Dalam film ini, Marsya Timothy sebagai tokoh utama, adalah seorang janda yang harus merelakan tubuhnya untuk melayani para perampok. Hal ini bukan hanya terjadi pada zaman dulu, bahkan hingga kini pemberitaan serupa masih kerap terjadi. Wanita sudah dijadikan objek oleh para kaum lelaki. Seorang pelaku akan berpendapat bahwa korban akan menikmati kejahatan yang direncanakan itu, begitupun dengan Marlina yang dianggap akan menikmati pemerkosaan yang direncanakan komplotan perampok di rumahnya itu. Padahal tidak!


Adanya sistem adat bernama belis yang bagai 'membeli' perempuan

photo credit: blog hurek

Di kalangan masyarakat Nusa Tenggara Timur, terdapat budaya memberikan belis atau mas kawin berupa gading gajah yang tentunya tak murah. Pemberian belis menjadi istimewa dan penentu status sosial seseorang karena selain mahal, gading gajah juga amat jarang ditemukan di NTT. Sekilas budaya ini seolah menguntungkan pihak perempuan sebagai penerima, namun di sisi lain budaya belis ternyata dapat mengubah perempuan sebagai komoditas dagang. Suami seolah ‘menebus’ mempelai perempuan dengan membayar istrinya. Merasa telah membayar lunas sang istri, sang suami jadi merasa berhak bertindak semena-mena terhadap sang istri.


Saat terjadi konflik di dalam rumah tangga, pihak perempuan yang sering disalahkan

photo credit: screendaily

Seperti apa yang dialami Novi, saat ia hamil tua dan diperlakukan keras oleh sang suami, karena jabang bayi tak kunjung keluar. Pada umumnya seorang perempuan akan melapor apabila ia mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Namun pengarahan pengaduan tersebut tidak mengarah langsung kepada hal yang menangani ini. Biasanya seorang perempuan akan menceritakan peristiwa yang terjadi kepada keluarga. Namun ia harus mengalah karena hal tersebut tak jarang dianggap aib. Hal ini yang menjadikan perempuan dihadapkan doktrin dari keluarga secara turun temurun. Kekerasan adalah aib, semua bisa dilakukan dengan cara kekeluargaan. Semua teratasi dengan cara bersabar dan mengalah. Sungguh sangat klasik ya, Sahabat Trivia.

BACA JUGA


Film Marlina Panen Prestasi di Ranah Internasional dan Negeri Sendiri. Simak Fakta Menariknya Yuk!

Film Marlina Panen Prestasi di Ranah Internasional dan Negeri Sendiri. Simak Fakta Menariknya Yuk!

Marlina, menjadi film Indonesia satu-satunya yang terseleksi dalam Festival Cannes 2017

Read more..

Meski hidup dalam bayang-bayang masyarakat misoginis, Marlina hanyalah perempuan Sumba yang hidup dengan kesederhanannya. Secara tidak langsung, Marlina digambarkan sebagai perempuan yang melawan patriarki, melawan dengan caranya sendiri. Perbuatan yang seharusnya tidak terjadi, hingga seharusnya terjadi karena adanya keadaan yang mendesak ketika itu. Dalam film ini Karakter Marlina menjadi simbolis kekuatan untuk para kaum wanita yang melawan agenda ideologi tertentu. sehingga kesan kemaskulinan dalam diri Marlina tidak dapat dipisahkan, walalupun ia sendiri adalah seorang wanita.




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Dari Film 'Marlina, si Pembunuh dalam Empat Babak', Inilah Bukti Misoginis Masih Ada Hingga Kini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


annisa ramadhannia | @katapenghubung

menyukai aroma kertas, kalimat itu dan dirimu. Masuklah, hanya aku dan kamu yang tahu.

Silahkan login untuk memberi komentar