Keluarga Adalah Segalanya. Sakit yang Pernah Dialami Bapak Membuatku Sadar Akan Pentingnya Sebuah Keluarga

LinkedIn

Keluarga Adalah Segalanya. Sakit yang Pernah Dialami Bapak Membuatku Sadar Akan Pentingnya Sebuah Keluarga

150
Sahabat Trivia, setuju tidak kalau keluarga adalah segalanya? Kamu tidak akan pernah bisa hidup tanpa keluarga.

Sahabat Trivia, setuju tidak kalau keluarga adalah segalanya? Kamu tidak akan pernah bisa hidup tanpa keluarga. Namaku Susi Sakinah, saat ini aku berusia 22 tahun. Kejadian yang akan aku ceritakan terjadi 10 tahun yang lalu, saat aku masih duduk di kelas 6 SD. Bagiku itu adalah hal terberat yang pernah aku alami dan sekaligus menjadi titik balik kehidupanku.


Adik mendadak rewel

Dua minggu sebelum hal itu terjadi, adik laki-lakiku yang baru berusia satu tahun setengah mendadak rewel. Selama dua minggu berturut-turut setiap jam 24.00-01.00 dia selalu terbangun, menangis, dan selalu mengajak keluar. Aku dan mama kewalahan karena setiap malam kami harus menenangkan adik yang menangis. Kami selalu membawanya keluar sekadar untuk menenangkannya. Polanya selalu sama, setelah keluar, dia menunjuk ke jalan. Itu terjadi setiap malam. Saat itu, aku tak memiliki firasat apa-apa, hanya beranggapan kalau adikku memang sedang dalam fase rewel saja.


Tak kusangka bapak ternyata sakit

Dua minggu sudah berlalu. Lalu, pada suatu malam, kami mendapat telepon dari nomor baru. Saat itu, keluargaku baru mempunyai sebuah handphone, satu untuk semua. Mama yang mengangkat telepon. Aku sangat ingat bagaimana ekspresi mama yang berusaha sekuat tenaga agar tetap terlihat tenang dan tak mau membuatku panik. Dia berhati-hati menyampaikan kalau bapak sakit dan akan pulang malam ini. Jujur saja, waktu itu aku kira itu hanya sakit biasa. Aku cuek saja mendengar hal itu dan malah pergi tidur.

Lalu, aku dibangunkan oleh mama, bapak sudah sampai di rumah. Saat itu menunjukkan pukul 02.00 pagi, sepertinya sifat tidak peduliku sudah ada sejak kecil. Buktinya aku hanya menatap kosong menyimak apa yang dikatakan oleh bapak. Ternyata bapak sudah sakit sejak dua minggu yang lalu, tepat saat adik rewel terus. Bapak dirawat di rumah sakit selama 8 hari. Kejadiannya mendadak ketika sedang kerja. Bapak tiba-tiba batuk darah dan jatuh pingsan.


Musibah di tengah kekeringan

Tahun itu adalah tahun yang sangat berat. Pada tahun 2006, kekeringan melanda Indonesia selama sembilan bulan. Seingatku itu adalah kekeringan terparah apalagi menempa desaku. Sumur-sumur kering. Seluruh penduduk desa beramai-ramai pergi ke sungai untuk mendapatkan air. Apalagi saat itu bulan Ramadhan.

Sore itu, aku dan mama sedang di sungai untuk membersihkan badan dan mengambil air untuk kebutuhan bapak. Lalu paman datang dengan terengah-engah dan dia berkata, “Kak cepat pulang. Mas muntah darah.” Mama bergegas mengajakku pulang. Tapi, saat itu aku susah menangis dan berekspersi datar seperti biasa. Melihat rumah yang penuh darah dari ruang tamu sampai kamar mandi pun tak membuatku menjerit atau menangis, malah yang menjerit dan menangis adalah keluarga lain. Bapak dilarikan ke rumah sakit. Sementara aku disuruh menjaga adik di rumah. Aku yang saat itu berusia 11 tahun tidak banyak bertanya apa-apa karena aku tidak mau membuat mama khawatir dan membuat adik menangis.


Kondisi bapak yang memburuk

Baltana

Tapi, belum sampai 10 menit, aku dijemput kembali oleh keluarga. Mereka bilang bapak tidak jadi ke rumah sakit karena ketika di tengah jalan, bapak sudah seperti sakaratul maut. Aku melihatnya sendiri bagaimana bapak sudah hampir kehilangan kesadaran, seperti lehernya tergorok, bernapas pun sudah sangat kesakitan. Keluarga, tetangga, dan mama menangis. Aku masih memangku adik sambil membaca Yasin. Banyak orang berkumpul di rumah, sama-sama berdoa.

Alhamdulillah sepertinya doa lebih dari 40 orang itu ada yang diijabah. Bapak membaik dan akhirnya diputuskan akan dibawa ke rumah sakit lagi. Aku tidak diajak dan seperti sebelumnya, aku disuruh menjaga adik. Aku dibawa ke rumah tante untuk tidur di sana. Saat itu, walaupun ingin menangis, anehnya aku tidak menangis. Mungkin alam bawah sadarku mengatakan aku tak boleh menangis karena aku harus menjaga adikku agar tak menangis juga.


Aku sadar kalau aku harus kuat demi keluarga

Law Practise Today

Malam itu aku tidur larut, tertawa, dan menghibur adik. Perasaanku? Sepertinya aku memendamnya dan berusaha terlihat baik-baik saja di depan tante sekalipun. Besoknya mama menjemput dan aku sudah dalam keadaan demam. Mama tahu kalau aku tidak bisa menunjukkan perasaanku pada orang lain, mama berkata seperti ini, ”Sudah Neng, jangan terlalu dipikirkan, tuh malah jadi sakit kan?” Alhamdulillah setelah dirawat beberapa hari, keadaan bapak membaik. Tapi, aku dan adik malah jatuh sakit juga. Saat itu, benar-benar keadaan terberat dalam hidupku ketika harus melihat mama yang setiap hari harus melayani kami, mengambil air dari kali yang jauh, belum lagi biaya pengobatan kami yang tak kecil. Apalagi bapak ternyata divonis penyakit paru-paru.

Namun, dari semua itu aku belajar banyak hal. Saat ini ketika sedang ada waktu luang di asrama, aku selalu pulang dan menghabiskan waktu di rumah daripada bermain. Aku lebih suka di rumah karena aku tak tahu sampai kapan aku bisa terus bersama mereka. Sejak saat itu aku selalu bercita-cita menjadi perempuan seperti mama. Kuat, tegar, sabar, dan setia.

BACA JUGA


Begini Rasanya Menjadi Anak Pertama dari Keluarga yang Bercerai. Soal Luka, Sesal, dan Pendewasaan Diri yang Membentuk Diri Saya Saat Ini

Begini Rasanya Menjadi Anak Pertama dari Keluarga yang Bercerai. Soal Luka, Sesal, dan Pendewasaan Diri yang Membentuk Diri Saya Saat Ini

Saya benci ketika melihat tatapan kasihan orang-orang kepada saya dan adik saya karena orang tua kami bercerai

Read more..

Sahabat Trivia, keluarga adalah harta paling berharga. Selagi masih sehat, gunakanlah waktumu sebaik-baiknya untuk keluarga. Kita tidak akan pernah tahu sampai kapan kita bisa bersama mereka, bukan?


#IniCeritaGue





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Keluarga Adalah Segalanya. Sakit yang Pernah Dialami Bapak Membuatku Sadar Akan Pentingnya Sebuah Keluarga". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Susi Sakinah | @susisakinah

Kutu buku sejak kelas 4 sekolah dasar sampai sekarang makin menggila, suka menulis, terutama puisi dan cerpen.

Silahkan login untuk memberi komentar