Ketika Sahabatmu Mengalami Kehilangan, Ini 5 Hal yang Sebaiknya Kamu Lakukan

Ketika Sahabatmu Mengalami Kehilangan, Ini 5 Hal yang Sebaiknya Kamu Lakukan

2.3K
Kematian bisa datang kapan saja. Akan tetapi, bagaimana jika sahabatmu yang mengalami kehilangan seseorang yang begitu berarti?

Beberapa hari yang lalu, sahabat saya mentweet tentang betapa dia merindukan mamanya. Tante A, meninggal menjelang bulan Ramadhan lalu setelah berjuang melawan kanker otak sekitar setahun lamanya. Saya mengirim pesan WhatsApp segera, bertanya apa dia baik-baik saja, dan meminta maaf karena saya sedang tidak berada di Surabaya sehingga tidak dapat memeluknya. Dia mengatakan dia baik-baik saja, hanya merasakan rindu yang teramat dalam. Akhirnya saya meneleponnya, dan kami berbincang tentang candaan yang sering dilontarkan oleh mamanya, terutama karena saya masih betah single sementara sahabat saya hamil anak kedua. Malam itu kami menangis, tetapi dia juga tertawa karena obrolan kami cukup meringankan bebannya.

Tadi malam, seorang teman saya meninggal. Kami saling mengenal sejak dia mengadakan suatu proyek menulis surat cinta dan cerita kota secara nasional. Kami bertemu pada akhir tahun lalu. Meskipun kami tidak dekat, saya sangat merasa kehilangan karena kami sempat berbagi tentang sebuah misi untuk meningkatkan minat baca dan tulis di Indonesia. Namun, ada yang lebih kehilangan dari saya. Seseorang yang dulunya memperkenalkan kami sangat terkejut, hingga tak dapat membalas pesan saya. Saya merespon, "Take your time, Kak." lalu berdoa dan berusaha untuk tidur.

Pernahkah kamu berada dalam posisi seperti saya? Mungkin kamu sering merasa tidak enak hati saat sahabatmu sedang merasa kehilangan. Kadang kamu merasa apapun yang kamu lakukan tidak cukup baik untuk menghibur sang sahabat. Bahkan kadang kamu tidak tahu apa yang seharusnya kamu lakukan karena takut menyakiti hatinya. Di bawah ini ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan, dan juga kamu hindari ketika kamu menghadapi situasi seperti saya.


Bisakah Kamu Datang atau Setidaknya Mengirim Kabar Secepat Mungkin?

Photo credit: DLS Law Firm

Tidak ada yang paling melegakan di dunia ini selain memiliki seseorang untuk berbagi. Berbagi kesenangan, apalagi kesedihan. Saat mama sahabat saya meninggal, saya sedang berada di luar kota sehingga saya hanya dapat mengirim pesan. Tante A meninggal pada pukul 15.00, saya mendapat kabar pukul 18.00, dan saya langsung mengirim pesan saat itu juga. Yang dapat sedikit mengurangi ‘rasa bersalah’ saya kepada sahabat adalah, ibu saya yang juga dekat dengan Tante A masih kerap menjenguknya hingga beberapa bulan sebelum Tante A mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Saya pun masih sempat menemui sahabat saya pada awal tahun; mengajak dia dan anaknya berenang dan makan malam di sela-sela kegiatan menemani mamanya.

Mungkin kamu juga harus mengantisipasi terjadinya hal ini. Terutama jika orang terdekat dari sahabatmu menderita sakit parah. Selalu luangkan waktu untuk mengecek perkembangan, namun dalam frekuensi yang tidak terlalu sering juga. Dengan mengetahui kabar terbaru tentang orang terkasih sahabat, kamu bisa ‘menyiapkan diri’ saat suatu hal terjadi. Saat Tante A meninggal, seorang sahabat saya yang lain (kami bersahabat berlima) turun tangan untuk mengurus semuanya. Dari mulai keluar rumah sakit, pemakaman, hingga pengajian. Saya sedikit berharap bahwa saya yang melakukannya. Akan tetapi, karena keterbatasan waktu dan tempat, kami pun ‘menyerahkan’ tugas tersebut kepadanya.


Bagaimana Mengucapkan Turut Berbelasungkawa yang Baik?

Photo credit: Steven Aitchison

Pada saat kejadian itu terjadi, sebenarnya tidak ada satu kalimat pun yang bisa menyejukkan hati sahabatmu. Itu pasti. Misalnya saja kamu yang sedang kehilangan, apapun kalimat yang orang pikir akan menguatkan pasti ingin kamu jawab, "Enak kamu cuma ngomong, kamu tidak merasakan apa yang saya rasakan." Maka kirimkan pesan sesingkat mungkin. Sebagai seorang muslim, biasanya saya mengirim kalimat ini, "Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, yang sabar ya, ini saya bacakan Al-Fatihah/Yasin."

Sebaliknya, ada beberapa kalimat yang perlu kamu hindari, seperti:

- Kejadiannya gimana/meninggalnya karena apa?

Hal ini akan membuatnya mengulang ingatan buruk tentang bagaimana detik-detik terakhir sebelum meninggal, dan jelas membuatnya tidak nyaman.

- Orang terkasihmu berada di tempat yang lebih baik sekarang.

Jika sahabatmu masih sensitif, bisa-bisa dia menjawab, "Jadi, apakah bersamaku tidak baik untuknya?"

- Tuhan lebih sayang padanya.

Sama seperti respon di atas, tentu kamu tidak ingin meninggalkan kesan bahwa sahabatmu tidak menyayangi orang tersebut dengan cukup baik.

Kalimat-kalimat di atas, meskipun terdengar membesarkan hati, ternyata sama sekali tidak membantu. Hampir sama dengan pertanyaan ‘kapan nikah?’ yang mungkin orang katakan sebagai bentuk perhatian, namun bukan itu yang dibutuhkan. Yang paling penting dari semuanya adalah doa. Doa agar keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, dan doa agar yang meninggal kembali ke haribaan-Nya dengan tenang.


Apa Ada Cara Lain untuk Menunjukkan Perhatian?

Setelah beberapa waktu, misalnya seminggu atau dua minggu, kadang kamu akan diundang untuk mengadakan doa bersama. Jika sahabatmu sudah agak baikan, bercerita tentang betapa berartinya orang tersebut di kehidupanmu akan sangat membahagiakan bagi sahabatmu.

Sebagai contoh saya yang mengenang kembali pesan-pesan Tante A untuk saya sebelum saya berangkat S2. Atau jika kamu tidak terlalu dekat dengan orang yang meninggal, ceritakan bagaimana kamu memandang sahabat dan orang terdekatnya dalam nuansa yang positif. Saat itu saya menceritakan kembali bagaimana bahagianya Tante A saat sahabat saya melahirkan anak pertama, hingga saya merasa terharu melihatnya. Hal ini akan meringankan perasaan sahabat, mengetahui bahwa ada orang-orang yang juga merasa kehilangan. Orang-orang yang mengenang jasa dan kebaikan hati orang terdekat sahabat. Orang-orang yang terus mendoakan. Kamu juga tentu merasa lega jika ada orang-orang yang melakukan hal yang sama terhadap orang yang kamu kasihi.


Mungkinkah Menawarkan Bantuan Lain untuk Sahabat?

Photo Credit: MchHoul Funeral Home

Sebagaimana sahabat saya yang mengurus pemakaman, jika kamu berada di posisinya, kamu bisa melakukan banyak hal. Saat orang terdekat meninggal, tentu sulit baginya untuk berpikir dengan jernih. Oleh karena itu, hal-hal kecil seperti membacakan doa saat prosesi pemakaman, atau mengurus akte kematian ke kelurahan, akan sangat besar artinya bagi sahabatmu. Tips khusus, jika kamu memiliki rezeki berlebih, tawarkan untuk membantu pengeluarannya. Pada proses tersebut, temanmu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Mungkin kamu bisa membelikan makanan untuk para petugas yang membantu pemakaman. Atau menyewa jasa bersih-bersih rumah. Yang perlu diingat, lakukan hal ini atas persetujuan sahabatmu.


Apakah Dirasa Perlu untuk Memantau Kabar melalui Media Sosial Sahabat?

Tidak semua orang memiliki siklus move on yang sama. Jika sahabatmu membutuhkan beberapa minggu untuk kembali bercerita, biarkan saja. Jangan merasa berkecil hati jika dia memilih untuk bercerita pada saudara atau kerabatnya, sahabatnya yang lain, atau bahkan media sosial. Besar kemungkinan seseorang akan mencari teman berbagi yang sama-sama pernah kehilangan, atau sekadar cocok saja pada waktunya. Pantau status di media sosial untuk melihat suasana hatinya, karena kadang hal tersebut tidak terungkap secara eksplisit. Bukannya kepo, tetapi untuk mengetahui suasana hatinya dan bisa menawarkan obrolan yang tepat untuk membuatnya terhibur.


Yang paling penting, jadilah dirimu sendiri dan berusaha untuk tulus tanpa dibuat-buat. Apapun yang bisa kamu lakukan untuk sahabat, ia pasti akan menghargai usahamu. Semoga hal tersebut bisa meringankan kesedihannya.

Baca juga: Alasan Kamu Seketika Mellow Ketika Hujan Turun





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ketika Sahabatmu Mengalami Kehilangan, Ini 5 Hal yang Sebaiknya Kamu Lakukan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Primadita Rahma | @primaditarahma

Currently juggling between writing thesis and posting my thoughts on http://theprimadita.blogspot.co.id. Lately enjoying zumba and cold-pressed juice. Obsessed with the Crown Prince of Dubai.

Silahkan login untuk memberi komentar