Mural-Mural di Jalanan Yogyakarta Beri Pesan Kemanusiaan Pada Warga yang Melintas. Kreatif Banget Nih!

Photo credit: urbancult

Mural-Mural di Jalanan Yogyakarta Beri Pesan Kemanusiaan Pada Warga yang Melintas. Kreatif Banget Nih!

586
Pada mural-mural ini, beberapa street-artisan menyelipkan pesan kemanusiaan.

Jogja tidak hanya dikenal sebagai kota budaya dan kota pendidikan, tetapi juga dikenal sebagai kota mural. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya mural yang bertebaran di tembok-tembok pinggir jalan di sepanjang kota. Mural menjadi sarana komunikasi visual yang kadang menyiratkan pemberontakan dan kadang jadi bentuk protes sosial. Mural juga sekaligus menjadi karya seni yang mengisi kekosongan ruang di dinding kota atau beton jalan layang yang kosong.

Berkat tampilannya yang biasanya berukuran besar memenuhi seluruh permukaan tembok, mencolok, dan tak jarang juga warna-warni, orang-orang yang melintas tak tahan untuk melirik, berhenti berjalan atau menghentikan kendaraan, hingga mengabadikannya dalam satu atau dua kali jepret. Pada mural-mural ini, beberapa street-artisan menyelipkan pesan kemanusiaan. Berikut adalah di antaranya yang bisa kamu temui saat berada di Jogja.


1. Sebuah surat cinta dalam bentuk kotak dialog peringatan

Photo credit: Instagram/rezha.budiman

Mural yang ini ada di sekitar jalan Malioboro. Pesannya cukup singkat, padat, dan jelas dengan menggambarkannya sebagai kotak dialog peringatan yang biasa muncul di komputer saat terjadi kesalahan koneksi internet atau sistem operasi Windows dan sejenisnya. Your love is error, please try again later, demikian bunyi pesan cinta tersebut. Demikianlah adanya, saat satu hubungan gagal, kamu bisa coba memperbaikinya atau cari yang lain lagi daripada sedih berkepanjangan.


2. Ajakan untuk saling tolong-menolong di tengah masyarakat yang semakin individualis

Photo credit: Instagram/adhitama_veri

Berbagai macam tuntutan hidup membuat banyak orang lupa tengok tetangga kanan-kiri dan hanya mementingkan diri sendiri. Melalui mural yang ada di wilayah Kota Gede ini, kamu diajak kembali ke masa yang mana para ibu masih menanak nasi menggunakan tungku lengkap dengan nuansa masyarakat desa yang saling tolong-menolong, atau harerewangan, ketika ada sebuah acara besar.


3. Hiduplah dengan sederhana

Photo credit: andri_retiadi

Urip sing prasojo yang tertulis dalam mural di wilayah Kota Gede ini dapat diartikan ke dalam bahasa Indonesia sebagai hidup yang bersahaja atau sederhana, mengingatkan kamu untuk menghindari perilaku berlebih-lebihan di tengah gaya hidup masyarakat hedon.


4. Sebuah sentilan atas melambungnya harga sepetak tanah

Photo credit: Instagram/deirfanyusuf

Pembuat mural di jalan Bhayangkara ini paham betul bahwa kini uang menguasai banyak hal, termasuk sepetak tanah yang sempit. Sebelum kelak semuanya berbayar, maka di sepetak`ruang tembok ini ia berkarya. Ia gambarkan keceriaaan segerombol anak laki-laki yang bermain layang-layang berdampingan dengan kalimat "sebelum semua ruang diukur dengan uang".


5. Kampanye melawan korupsi

Photo credit: satuharapan

Mural yang ini ada di Stadion Kridosono dan merupakan bagian dari gerakan antikorupsi yang didukung pemerintah kota Yogyakarta pada tahun 2014 silam. Secara cerdas menyindir koruptor yang identik dengan tikus sekaligus menyindir orang-orang yang jujur tapi tidak mau bertindak melawan kecurangan. Selama oknum politisi yang korupsi masih ada di muka bumi ini, mural anti-korupsi yang seperti ini juga akan terus diproduksi silih berganti.


6. Ajakan untuk menjadi pembeli yang cerdas

Photo credit: urbancult

“TUMBAS..!!” yang disahut dengan “Durung bukak yo, le!” ini dalam bahasa Indonesia berarti “BELI..!!” dan disahut dengan “Belum buka, Nak!”. Selain informatif, mural yang ada di sebuah pintu depan toko ini juga mengajak kamu untuk jadi pembeli yang cerdas. Sama seperti tamu, pembeli memang bagaikan raja. Tetapi hal itu tidak lantas membuat kamu boleh ngelunjak dan bertindak sesuka hati saat berada di toko, warung, swalayan, atau rumah orang lain.


7. Kampanye cinta lingkungan

Photo credit: annafardiana

Kini jalanan di kota-kota besar semakin macet, tidak terkecuali jalanan di Jogja. Kendaraan semakin banyak sehingga jalan semakin padat dan ramai serta menimbulkan polusi udara. Mural di jalan Pasar Kembang ini mengajak warga untuk bersepeda daripada mengendari motor dan mobil pribadi agar udara semakin bersih. Ia dengan cerdas menggambarkannya sebagai perempuan yang naik sepeda dengan keranjang bertulis "mesin pembunuh asap". Pada keranjang tersebut terdapat tanaman yang dihirup si perempuan melalui selang pernapasan.

BACA JUGA


Mau Kuliah di Jogja? Ini Dia 5 Universitas Pilihan Buat Kamu yang Mau Merantau di Jogjakarta!

Mau Kuliah di Jogja? Ini Dia 5 Universitas Pilihan Buat Kamu yang Mau Merantau di Jogjakarta!

Selain untuk traveling, Jogjakarta juga bisa kamu jadikan pilihan sebagai kota untuk menjalani pendidikan kuliahmu

Read more..

Mural-mural di tembok ini bukan hanya luapan artistik si pembuatnya melainkan juga mengadung pesan kemanusiaan bagi warga Jogja asli, pendatang baru, pelajar dari luar kota, maupun wisatawan lokal dan asing yang melintas di jalanan Jogja. Untuk kamu yang pelesir ke Jogja akhir pekan ini, salah satu mural di atas mungkin akan kamu temui.





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mural-Mural di Jalanan Yogyakarta Beri Pesan Kemanusiaan Pada Warga yang Melintas. Kreatif Banget Nih!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Henny Alifah | @hennyalifah

Writer and Knitter

Silahkan login untuk memberi komentar

CREATE ARTICLE

Hey awesome, Join our TRIVIA community
"create articles and get the fans "

Most Views of This Week