Pernah Ingin Menyerah Sama Hidup? Saya Pernah! Tapi, Saat Hampir Mati, Saya Justru Ingin Tetap Hidup

photo credit: theguidancegirl.

Pernah Ingin Menyerah Sama Hidup? Saya Pernah! Tapi, Saat Hampir Mati, Saya Justru Ingin Tetap Hidup

15.3K
Jika Sahabat Trivia pernah berpikir, kok semudah itu manusia menyerah? Apakah mereka tidak ingat dosa dan kuasa Tuhan? Mungkin kamu belum pernah berada di posisi mereka. Mungkin juga kamu tidak mengenal siapa pun yang pernah punya keinginan untuk mengakhiri hidup mereka.

Sahabat Trivia, akhir-akhir ini kok, makin banyak yah, orang yang menderita depresi hingga memutuskan untuk bunuh diri? Mulai dari penyanyi pop era '90-an Tommy Page hingga Inao Jiro, manajer JKT48. Ada juga Pahinggar Indrawan, seorang laki-laki yang mengunggah video bunuh dirinya secara live.

Mungkin Sahabat Trivia akan berpikir, kok semudah itu manusia menyerah? Apakah mereka tidak ingat dosa dan kuasa Tuhan? Hmm, mungkin kamu belum pernah berada di posisi mereka. Mungkin juga kamu tidak mengenal siapa pun yang pernah punya keinginan untuk mengakhiri hidup mereka.

Penyebab orang ingin bunuh diri bisa macam-macam. Ada yang sudah lama menderita depresi namun berusaha keras menyembunyikan keadaan mereka. Pada akhirnya, mereka tidak tahan lagi dan akhirnya memutuskan untuk menyudahi hidup mereka. Ada yang merasa kekurangan kasih sayang, lelah menjadi korban bullying, hingga merasa tidak berguna.

Lalu, bagaimana denganku? Tapi, moga-moga ceritaku ini bisa jadi inspirasi Sahabat Trivia ya, agar nggak mudah menyerah sama hidup dan nggak langsung menghakimi mereka dalam posisi ini.


Tumbuh dengan perasaan minder, sering diejek, hingga dianggap dan merasa "nggak cukup baik"

photo credit: Sean Cooper

Entah dari mana keinginan seram ini berawal. Waktu SD dan saat merayakan ulang tahun di sekolah, ada beberapa temen yang mengejek. Mereka mengucap begini berulang-ulang:

"Selamat ulang tahun, Ruby. Semoga segera meninggal."

Waktu itu, pak guru yang mendengar di kelas langsung melerai. Namun, mungkin beliau nggak tahu gimana cara negurnya. Jadi, beliau berusaha mengalihkan perhatian semua anak dengan memotong:

"Selamat ulang tahun, Ruby. Semoga segera meninggalkan sekolah dan pulang ke rumah setelah belajar selesai."

Sayangnya, cara beliau nggak berhasil. Namun, meskipun sakit hati, aku berusaha keras agar nggak menangis di depan mereka. Apalagi, Papa selalu bilang kalo beliau nggak suka punya anak cengeng. Jadilah perasaan sakit hati itu kutahan-tahan sekuat mungkin.

Waktu SMP, bukan hanya sesama murid yang mengejek. Karena kakak juga di sekolah yang sama, semua orang terheran-heran. Seorang guru laki-laki bahkan dengan teganya nanya gini:
"Kamu adiknya Dira?"
"Ya, Pak."
"Kok beda? Kamu gendut." Lalu, seakan belum cukup kasar, beliau menambahkan, "Gimana sih, rasanya gendut?"

Aku benar-benar sakit hati. Namun, lagi-lagi aku diam saja. Selain takut dianggap melawan, waktu itu statusku masih anak baru. Tapi, terlalu sering aku dengar pertanyaan-pertanyaan bodoh ini waktu SMP:

"Elo kok beda banget sih, ama kakak lo?" Bahkan, ada guru yang dengan entengnya berkomentar begini:

"Kamu kok, gak bisa kayak kakak kamu, ya? Kakakmu bisa masuk ke kelas berbakat."

Suatu siang sepulang sekolah, aku masih berdiri di balkon lantai tiga. Berhubung sudah sepi, kuputuskan untuk memanjat pagar balkon. Namun, mendadak ada yang menegurku.

"Hei, ngapain kamu?" Ternyata wakil kepala sekolah. Buru-buru aku turun kembali saat dipelototi beliau. "Jangan main-main kayak gitu, ah. Ntar ada 'setan' lewat, lho."

Lulus kuliah, aku sempat lama menganggur. Masalah demi masalah yang nggak bisa kusebutin semua di sini terus berdatangan. Saat itu, aku merasa bahwa diri sendiri sangat nggak berguna, nggak bisa membantu keluarga dengan benar. Sempat beberapa malam aku nekat berjalan sendirian di tengah jalan, berharap ditabrak kendaraan yang lewat.

Namun, sepertinya Tuhan masih sayang denganku. Harapanku nggak dikabulkan sama sekali malam itu.


Mendapatkan pekerjaan impian, bertemu sahabat yang pengertian, dan titik balik yang akhirnya 'membunuh' niatku untuk selamanya

photo credit: theguidancegirl.

Akhirnya, aku mendapatkan pekerjaan sebagai pengajar bahasa Inggris. Aku juga mulai merintis karier sebagai penerjemah dan penulis lepas. Aku menemukan teman-teman yang benar-benar baik, termasuk sahabat-sahabat yang pengertian. Aku tidak pernah berani menceritakan soal ini kepada sembarangan orang.

Tanggapan mereka pasti rata-rata sama. Aku yang terlalu baper-lah. Harus ingat dosa-lah. Lebih banyak beribadah-lah. Sama seperti Mama, yang selalu menasehati bahwa aku harus kuat, karena orang-orang yang jahat akan selalu ada.

Memang benar, namun mereka enggan melihat bahwa saat itu, aku hanya butuh didengarkan dan dimengerti bahwa aku pun berhak marah dan sakit hati bila diperlakukan jahat. Instead, mereka cuma menuntut aku harus selalu kuat dan berusaha cuek sama omongan orang.

Titik balik itu terjadi saat aku liburan ke Bali dengan sahabatku. Waktu berenang dan bermain-main di Pantai Dreamland sore itu, ombak besar menerjang kami berdua. Pasirnya yang tipis tergulung-gulung bersama ombak, hingga aku kehilangan pijakan. Rasanya seperti tertarik oleh pasir isap.

Sahabatku cukup tangkas saat menangkap lenganku. Meskipun kuat, dia pun nyaris gagal menarikku ke darat. Dia bahkan nyaris ikut terseret denganku. Saat itulah aku tersadar.

Aku masih ingin hidup! Aku belum siap mati!

Untunglah, akhirnya sahabatku berhasil menarikku ke darat. Beberapa lama setelah peristiwa itu, barulah aku berani cerita sama dia. Untunglah, dia sama sekali nggak menghakimiku. Dia hanya lega kami berdua selamat dan kejadian itu mengubah pandanganku akan hidup.


Jangan takut mengakui kelemahanmu dan mencari bantuan bila perlu

Sahabat Trivia, jangan mudah menyerah sama hidup, ya. Jangan takut mengakui kelemahanmu dan mencari bantuan bila perlu. Jangan cepat putus asa bila kamu merasa bahwa nggak ada yang mengerti kamu. Kamu hanya perlu sedikit lagi bersabar untuk menemukan mereka.

Yang pasti, jangan menunggu sampai hampir mati seperti aku waktu itu.

Lalu, bagaimana kalo orang terdekatmu tampak depresi atau status mereka di medsos mulai terasa 'mencurigakan'?. Ajaklah mereka bercerita. Jadilah pendengar yang baik dan nggak menghakimi. Bila mereka bilang ingin bunuh diri, jangan panik dan tanyakanlah apa yang membuat hati mereka terluka dan tawarkan bantuan, meski hanya menemani mereka ke terapis yang lebih ahli.

BACA JUGA


Bunuh Diri Live di FB Gegerkan Netizen. Jika Orang yang Kamu Kenal Memiliki Pemikiran Bunuh Diri, Inilah 7 Tindakan Pencegahan yang Bisa Kamu Lakukan

Bunuh Diri Live di FB Gegerkan Netizen. Jika Orang yang Kamu Kenal Memiliki Pemikiran Bunuh Diri, Inilah 7 Tindakan Pencegahan yang Bisa Kamu Lakukan

Seseorang yang memiliki pemikiran bunuh diri biasanya telah memberi ‘tanda-tanda’ kepada orang di sekitarnya. Sayangnya, tak banyak yang ...

Read more..
Cintailah hidup, Sahabat Trivia, karena hidup hanya sekali. Kamu nggak perlu takut kelihatan nggak sempurna, karena kamu bukan satu-satunya manusia biasa yang punya kelemahan. Dengarkan suara-suara mereka yang benar-benar menyayangimu, bukan yang ingin menjatuhkanmu.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Pernah Ingin Menyerah Sama Hidup? Saya Pernah! Tapi, Saat Hampir Mati, Saya Justru Ingin Tetap Hidup". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Ruby Astari | @rubyastari

Penulis "Reva's Tale" terbitan Ice Cube Publisher, pengajar Bahasa Inggris, penerjemah lepas, dan penulis lepas di beberapa media lain. Blog pribadinya: ruangbenakruby.com

Silahkan login untuk memberi komentar

CREATE ARTICLE

Hey awesome, Join our TRIVIA community
"create articles and get the fans "

Most Views of This Week