Saat Mendengkur Menjadi Hal yang Ditunggu. Tak Selamanya Menjadi Menyebalkan, Namun Dinantikan

Photo credit: irandaily

Saat Mendengkur Menjadi Hal yang Ditunggu. Tak Selamanya Menjadi Menyebalkan, Namun Dinantikan

626
Bahkan mendengkur adalah nikmat Tuhan yang ada sebagian dari kita menantinya.

Pernahkah kamu mendengkur atau mendengar dengkuran dari teman kamu saat sedang tidur bersama-sama? Apa reaksi kamu? Marah? Kesal karena berisik?

Sebagian besar pasti akan mengatakan bahwa dengkuran itu mengganggu. Tidur kita akan tidak nyenyak karena suara khas yang berisik. Namun, untuk sebagian kecil, ternyata, mendengkur adalah hal yang sangat dinantikan.

Seperti pengalaman saya kali ini. Kali ini saya akan menceritakan kisah seorang sahabat yang sakit. Di penghujung bulan ke lima tahun masehi dua tahun lalu, saya melihatnya terbaring. Panas dan terkulai lemas terlihat diwajahnya yang teduh. Meski saya tahu, saya pun sedang tak berdaya menahan gejolak dari dalam tubuh saya. Bagaimana tidak? Panas tubuhnya membuat saya takut! Meski ia selalu berkata, "Aku tak apa-apa”, namun bagaimana saya tak khawatir saat lengan ini menyentuh dahinya yang terasa berbeda dari suhu kebanyakan orang pada umumnya? Ayo, kuat dan sehatlah!

Saat terlelap, wajah teduhnya lagi-lagi mengingatkan saya padanya. Maafkan saya yang selalu membawamu ke dalam masa lalu saya. Masa lalu di mana seharusnya kamu tak saya sertakan. Maafkan saya, Rahman. Namun percayalah, saat kamu terkulai lemas, khawatir ini saya tujukan padamu, bukan karena hal lain. Mungkin, jika saya boleh egois, saya ingin berkata “Saya tak mau kehilangan lagi!”. Oleh kerana itu saya khawatir akan semuanya.

Saat kondisi saya juga tak baik, melihatmu terkulai dengan panas tubuh itu membuat saya lebih menghkawatirkanmu. Tak saya biarkan dinginnya malam menggerogoti tubuhmu. Tak saya biarkan rasa sakit itu menyentuh ragamu. SAya memilih menjagamu meski kamu melarang dan menyuruh saya untuk beristirahat juga. Saya memilih ‘berpura-pura’ patuh padamu. Maafkan saya. Melihatmu dalam diam, mendengarkan hembusan napasmu yang saya tahu ada rasa sakit di sana, membuat saya ingin terus menemani detik demi detik menjagamu.

photo credit: sydneycriminallawyers

Rahman, tahukah kamu? Saya lebih mengkhawatirkanmu dari pada diri saya sendiri? Bukan karena masa lalu saya, tapi karena saya menyadari bahwa kamu sudah menjadi keluarga dalam hidup saya dan bagian yang harus saya jaga baik-baik tentunya. Saya memilih menjagamu dalam diam.

BACA JUGA


Seorang Ayah di Filipina Rela Membawa Anaknya Makan di Tempat Enak Tanpa Memesan Makanan untuk Dirinya Sendiri. Beginilah Gambaran Nyata Cinta Kasih Seorang Ayah pada Anaknya

Seorang Ayah di Filipina Rela Membawa Anaknya Makan di Tempat Enak Tanpa Memesan Makanan untuk Dirinya Sendiri. Beginilah Gambaran Nyata Cinta Kasih Seorang Ayah pada Anaknya

Kasih sayang orang tua tidak akan pernah ada habis dan ujungnya, salah satu buktinya adalah seorang ayah di Filipina bernama Tatay Ryan yang ...

Read more..

Tahukah kamu? Saat saya mendengar suara dalam tidurmu, saya sedikit bernapas lega? Dengkuranmu membuat saya menghelakan napas, tanda kamu sudah membaik. Meski saat tangan saya menyentuh dahimu dan masih saya rasakan panas di sana, setidaknya saa tahu kamu sudah pulas.

Rahman Iskandar, saudara baruku. Istirahatlah! Sehat dan kembali tersenyumlah!

Rahman Iskandar, sahabat baruku. Teruslah berdengkur dan pastikan esok baik-baik saja.




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Saat Mendengkur Menjadi Hal yang Ditunggu. Tak Selamanya Menjadi Menyebalkan, Namun Dinantikan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Hairul Anam | @hairul

Bagiku, yang sejak kecil menginjakkan tanah dan beratapkan langit Indonesia, makan dan minum dari hasil Tanah Air bangsa ini, memutuskan menjadi Pengajar Muda dari Gerakan Indonesia Mengajar adalah keharusan.

Silahkan login untuk memberi komentar