Sahabat Laki-Lakiku yang Tak Akan Pernah Jadi Kekasihku. Beginilah Rasanya Terus Berteman dengannya Hingga Pada Akhirnya Hubungan Kami Merenggang

Sahabat Laki-Lakiku yang Tak Akan Pernah Jadi Kekasihku. Beginilah Rasanya Terus Berteman dengannya Hingga Pada Akhirnya Hubungan Kami Merenggang

352
Kisah ini sulit dilupakan karena dia mengukirnya terlalu dalam. Ya, inilah kisahku bersama sahabat laki-laki yang aku sayangi.

Namaku Natasa. Aku masih seorang anak SMA yang masih merasakan yang namanya jatuh cinta lalu timbul jerawat-jerawat rindu atau cinta setiap menatap orang yang aku suka. Aku ingin menceritakan tentang kisah cinta sederhanaku yang sulit dilupakan. Entah karena terlalu banyak kenangan terukir atau aku sendiri yang memang tidak berniat melupakannya. Inilah kisahku bersama sahabat laki-lakiku.


Tanpa sengaja mengenal Fara

Sebut saja nama laki-laki itu Fara. Awal pertemuan kami sangatlah klise. Kami bertemu di kelas yang sama. Di tahun pertama aku bersekolah, aku tidak mengenal dirinya padahal aku sering mengunjungi kelasnya karena dia sekelas dengan salah satu sahabatku. Waktu itu, dia laki-laki pertama yang aku tahu setelah teman-teman laki-lakiku yang sudah sekelas denganku di tahun sebelumnya. Aku ingat waktu itu saat absensi di tahun ajaran baru dia tidak hadir. Saat itu, dia sedang mengikuti turnamen di Sekolah Sepak Bola (SSB).


Berawal dari chat yang intens

LifeHacks

Obrolan pertama kami dimulai saat aku mengadd kontak BBMnya. Saat itu, BBM masih booming. Dia tidak mengenalku sebagai teman sekelas. Tapi, gara-gara itu kami menjadi dekat. Chat yang awalnya hanya sekadar menanyakan PR dan jadwal pelajaran berkembang menjadi tanya jawab tentang hidup kami masing-masing.

Fara ini tidaklah ganteng seperti yang sering digambarkan dalam novel yang sering kamu baca. Dia mempunyai kulit kecokelatan yang dia dapat dari hasil latihannya di SSB. Giginya tidaklah rapi dan putih. Tubuhnya tidak atletis bahkan bisa kubilang badan dia cungkring karena kurus tinggi. Tetapi, aku tidak peduli. Aku menyukainya.


Aku patah hati ketika tahu bahwa dia menyukai perempuan lain

Sampai akhirnya suatu hari Fara bertanya, "Emang lo suka sama siapa?"

Tidak mungkin aku menjawab aku menyukai dirinya. Aku malah menjawab aku menyukai tetanggaku. Kebodohan terjadi saat aku bertanya hal yang sama dengannya.

Dia menjawab, "Gue suka sama kakak kelas namanya Wawa"

Aku hanya meledeknya. Diam-diam saat tahu hal itu, aku menyelidiki perempuan tersebut. Ternyata dia anak OSIS. Kebodohan keduaku adalah tetap membantu Fara PDKT. Aku memaksakan diri berkenalan dengan Wawa. Entah bagaimana caranya aku mempunyai kontak kakak kelas itu. Singkat cerita, Fara akan meminjam ponselku di kala belajar atau istirahat untuk mengirimkan pesan lewat aplikasi LINE kepada Wawa. Ya, aku membantunya lebih dekat dengan Wawa.


Ketika akhirnya aku memilih menyatakan perasaan

Tiny Buddha

Aku sakit ketika melihat Fara sakit. Fara waktu itu sering menangis. Bukan karena dia cengeng, tetapi dia itu begitu sayangnya terhadap seorang perempuan. Aku ingat dia bercerita kalau Wawa menyukainya, tetapi tidak mau berpacaran karena bundanya melarang.

Demi apapun aku bingung waktu itu. Aku ikut juga merasakan sakit yang sama. Entah sakit melihat sahabatku terluka atau sakit mendengar laki-laki yang aku sukai bercerita betapa sayangnya dia pada perempuan lain.

Setelah dia tidak lagi dekat dengan Wawa, hubunganku dengan Fara merenggang. Sebelum merenggang, aku menyatakan perasaanku kepadanya. Awalnya, setelah kejujuran itu hubungan kami tidak ada yang berubah. Malah aku kira aku dan Fara semakin dekat.


Hubungan kami mulai merenggang

Nyatanya aku salah. Aku lupa kalau di setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Yang selalu aku ingat terakhir kali adalah ketika kami saling berbagi kursi untuk duduk sambil mengerjakan tugas PLKJ.

Sejak saat itu kami berubah. Aku yang tidak lagi duduk berdekatan dengannya. Kami sibuk dengan dunia kami masing-masing. Aku dengan duniaku dan dia dengan teman-teman hits barunya. Aku bukanlah golongan anak-anak hits yang suka nongkrong. Aku lebih banyak membaca novel-novel romansa remaja di rumah.

Sungguh aku menulis ini membuat aku tersenyum membayangkan kejadian di masa silam. Nostalgia itu memang indah jika dilakukan tetapi di saat bersamaan terlalu sakit untuk diingat kembali.


Kebersamaan kami yang terlalu banyak membuatku selalu ingat padanya

Elite Daily

Mungkin hal yang selalu aku ingat adalah kebersamaan kami yang terlalu banyak. Sifat dia yang terlalu peka lah yang membuatku suka padanya. Dulu dia rela melakukan apapun untukku. Sebagai balasannya, aku sering menonton dan menyemangatinya di bangku tribun penonton saat dia ikut turnamen dengan timnya. Kadang dia memerhatikanku ketika aku diam-diam menyaksikan pertandingannya.

Untuk ukuran seorang laki-laki, dia terlalu peka untuk mengerti aku. Di kala hujan, dia menawarkan payung untukku. Saat aku malas ke kantin, dia senang hati mau aku titipkan sebuah makanan. Kadang dia mau mendengarkan aku bercerita tentang hal yang sebenarnya tidak penting entah melalui chat atau telepon. Aku ingat dia pernah bersender padaku saat sedang menonton sebuah film. Teman-temanku mengira ini hal yang wajar.

Lama tak kudengar kabar Fara. Aku bersyukur memiliki kisah ini bersamanya meski tak pernah memilikinya. Terima kasih Fara untuk kisah setahun belakangan ini.

BACA JUGA


Terjebak Friendzone? Tenang! Ini 9 Alasan Kenapa Friendzone Lebih Baik daripada Status Pacaran

Terjebak Friendzone? Tenang! Ini 9 Alasan Kenapa Friendzone Lebih Baik daripada Status Pacaran

Ingin bilang suka, takut sayangmu tak diterima. Ingin terus memendam perasaan, takut terjebak friendzone yang menyiksa. Inikah yang kamu ...

Read more..

#IniCeritaGue




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Sahabat Laki-Lakiku yang Tak Akan Pernah Jadi Kekasihku. Beginilah Rasanya Terus Berteman dengannya Hingga Pada Akhirnya Hubungan Kami Merenggang". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Natasa | @tasaalifah

Silahkan login untuk memberi komentar