Syafrudin Prawiranegara dan Assaat yang Ternyata Pernah Menjadi Presiden RI. Ketahui Faktanya di Sini Yuk!

photo credit: Netral News

Syafrudin Prawiranegara dan Assaat yang Ternyata Pernah Menjadi Presiden RI. Ketahui Faktanya di Sini Yuk!

114
Tidak banyak yang tahu, Syafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat juga pernah menjadi Presiden Indonesia


Sahabat Trivia, ada berapa Presiden Indonesia yang kamu tahu? Ya, ada Ir. Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, KH. Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan yang masih menjabat sekarang adalah Joko Widodo. Tapi tahukah kamu, sebenarnya ada dua orang lagi yang pernah duduk di kursi nomor satu di Indonesia? Mereka adalah Syafrudin Prawiranegara dan Assaat. Kedua orang ini memang jarang muncul dalam pembahasan sejarah Indonesia sehingga dianggap ‘terlupakan’. Siapakah mereka dan kapankah mereka menjadi presiden Indonesia? Yuk, kita simak fakta-fakta tentang mereka!


Syafruddin Prawiranegara (Presiden Indonesia Desember yang menjabat dari tahun 1948 - Juli 1949)

photo credit: Wikipedia

Syafruddin Prawiranegara lahir di Serang, 28 Februari 1911. Ia memiliki darah Banten dari ayahnya dan Minangkabau dari ibu. Suami dari Tengku Halimah Syehabuddin Prawiranegara ini menempuh pendidikan tinggi di Rechtshoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) di Jakarta yang kini menjadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ia juga memiliki gelar Maester in de Rechten (Magister Hukum).


Mantan anggota KNIP

photo credit: Wawasan Sejarah

Ayah 8 anak ini merupakan salah satu anggota Badan Pekerja KNIP pada tahun 1945. KNIP adalah badan legislatif Indonesia sebelum adanya MPR dan DPR. Kekuasan legislatif KNIP mencakup ikut menentukan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN).


Pernah diangkat menjadi Menteri Kemakmuran

photo credit: Okezone

Pada tahun 1946, Syafruddin diangkat sebagai Wakil Menteri Keuangan. Di tahun yang sama, ia naik pangkat menjadi Menteri Keuangan. Di tahun 1947, Syafruddin berubah posisi menjadi Menteri Kemakmuran.


Penculikan Soekarno-Hatta dan telegram rahasia

photo credit: Wawasan Sejarah

Saat Syafruddin menjabat sebagai Menteri Kemakmuran terjadi Agresi Militer Belanda II. Dalam peritiwa yang terjadi pada Desember 1948 itu, pasukan Belanda berhasil merebut ibu kota Indonesia kala itu, yakni Yogyakarta, dan menculik Presiden Soekarno beserta wakilnya, Mohammad Hatta. Sebelum ditangkap, Soekarno berhasil mengirimkan pesan telegram rahasia kepada Syafruddin untuk mengambil alih pemerintahan Indonesia. Per 19 Desember 1948 dibentuklah Pemerintah Darurat Republik Indonesia dengan Syafruddin sebagai kepala pemerintahan.


Tidak suka menyebut dirinya presiden

photo credit: Republika

Meski menjabat sebagai kepala pemerintahan, Syafruddin enggan disebut sebagai presiden. Meski mengakui bahwa telah terjadi penyerahan tugas dan kewenangan dari Soekarno kepadanya, ia tetap lebih suka menyebut dirinya sebagai Ketua PDRI. Atas perannya ini, Syafruddin yang kini telah diangkat sebagai Pahlawan Nasional diklaim sebagai penyelamat bangsa.


Perjanjian Roem-Royen

photo credit: Info Sejarah

Perjuangan Pemerintah Darurat membuahkan hasil rundingan dalam Perjanjian Roem-Royen antara pihak Indonesia dan Belanda. Dengan perjanjian itu pula, upaya perebutan kembali Belanda akan Indonesia berhasil dihentikan sehingga Soekarno serta tahanan lain dapat dibebaskan.


Penyerahan mandat

photo credit: Triharyo

Setelah kebebasan Soekarno, diadakan sidang antara PDRI dengan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta, dan sejumlah menteri pada kedua kabinet. Dalam sidang pada 13-14 Juli 1949 tersebut, dilakukan serah terima pengembalian mandat dari PDRI kepada Presiden Soekarno. Dengan ini, berakhirlah masa jabatan Syafruddin sebagai “Presiden” Indonesia.


Gunting Syafruddin dan Gubernur BI pertama

photo credit: MetroTVNews

Lepas dari jabatan Ketua PDRI, Syafruddin menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri RI pada tahun 1949. Setelahnya, ia duduk di posisi Menteri Keuangan. Pada Maret 1950, Syafruddin mengeluarkan kebijakan pengurangan nilai uang atau lebih kenal disebut “pengguntingan”. Dibanding perannya sebagai presiden, Syafruddin lebih dikenal atas kebijakan kontrovesialnya ini. Sejarah lebih banyak mengingatnya karena julukan “Gunting Syafruddin”. Syafruddin juga adalah Gubernur Bank Indonesia yang pertama pada tahun 1951.


Terlibat dalam pemberontakan

photo credit: Kolektor Sejarah

Awal tahun 1958, dibentuk Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia atau PRRI. Pembentukan pemerintahan “tandingan” ini sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat. Dalam PRRI ini, Syafruddin menjabat sebagai Perdana Menteri. Namun, pada Agustus 1958, PRRI berhasil ditumpas oleh pemerintahan pusat. Meski sempat ditahan, tokoh-tokoh PRRI termasuk dalam pemberontak yang mendapat amensti dan abolisi atas keputusan presiden tahun 1961.


Hari tua diisi dengan berdakwah

photo credit: Tempo

Di masa tuanya, Syafruddin memilih untuk aktif berdakwah. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa ia seringkali dilarang naik mimbar akibat isi dakwahnya dianggap kontroversial. Selain itu, Syafruddin juga aktif dalam berbagi organisasi keislaman. Syafruddin meninggal di Jakarta pada 15 Februari 1989.


Mr. Assaat (presiden Indonesia Desember 1949-Agustus 1950)

photo credit: Indonesia Zaman Doeloe

Assaat lahir di Agam, Sumatera Barat, pada 18 September 1904. Setelah menuntaskan pendidikan di MULO (setingkat SMP) di Padang, ia melanjutkan pendidkan ke sekolah dokter STOVIA di Jakarta. Namun, dalam perjalanannya, ia memutuskan berhenti karena alasan tidak cocok. Ia melanjutkan ke AMS (setingkat SMA), sebelum akhirnya masuk ke Rechtshoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum, sekarang Fakultas Hukum Universitas Indonesia) di Jakarta. Assaat mendapat gelar Datuk Mudo.


Tidak diluluskan karena aktif di organisasi

photo credit: Indonesia Zaman Doeloe

Semasa kuliah, ia aktif dalam berbagai gerakan pemuda dan politik. Salah satunya adalah dengan bergabung dalam organisasi Jong Sumatranen Bond. Ia juga aktif dalam organisasi dan partai politik seperti Perhimpunan Pemuda Indonesia, Indonesia Muda, dan Partai Indonesia (Partindo). Kiprahnya dalam organisasi ini membuat banyak pengajarnya yang adalah orang Belanda tidak menyukainya. Karena itu, meski sudah berkali-kali mengikuti ujian akhir, Assaat tidak juga diluluskan. Merasa tersinggung, Assaat keluar dan bertolak ke Belanda. Ia mendapat gelar Meester in de Rechten (Mr) atau Sarjana Hukum-nya justru di Belanda.


Ketua KNIP dan diasingkan bersama Soekarno-Hatta

photo credit: Berita Akbar

Setelah aktif sebagai advokat sejak tahun 1939, Assaat bergabung dengan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) hingga mengetuai lembaga tersebut pada 1948-1949. Pada saat Agresi Militer Belanda II, Assaat termasuk sebagai salah satu pemimpin negara yang ditangkap bersama dengan Soekarno-Hatta. Ia diasingkan ke Manumbing, Bangka.


Assaat mendapat mandat sebagai Acting atau Pelaksana Tugas Presiden Republik Indonesia

photo credit: Jatikom

Pasca perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) 27 Desember 1949, Assaat mendapat mandat sebagai acting atau Pelaksana Tugas Presiden Republik Indonesia. Saat itu, ibu kota Indonesia masih berkedudukan di Yogyakarta. Sebagai pelaksana tugas, seharusnya ia mendapat sebutan Paduka Yang Mulia. Namun, Assaat lebih memilih dipanggil “Saudara Acting Presiden” meski banyak yang merasa canggung. Tugasnya berakhir pada Agustus 1950 seiring dengan dibentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS). Dengan dibentuknya RIS ini pula, KNIP pun dibubarkan.


Dari anggota parlemen hingga menjadi menteri

photo credit: Hello Indonesie

Setelah pindah ke Jakarta, Assaat duduk sebagai anggota parlemen (DPR). Selain itu, ia juga menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri. Setelah turun dari jabatan Mendagri, ia kembali ke parlemen.


Menentang Soekarno

photo credit: Ruang Guru

Saat Presiden Soekarno memutuskan untuk menjalankan Demokrasi Terpimpin, Assaat menjadi salah satu tokoh yang vokal menyuarakan ketidaksetujuannya. Akibatnya, Assaat dan keluarganya hidup dalam pengawasan ketat PKI. Ia dan keluarga lantas melarikan diri ke Sumatera dan akhirnya bergabung bersama PRRI.


Hidup di hutan hingga ditangkap

photo credit: Wikipedia

Setelah PRRI jatuh di tangan pemerintah pusat, Assaat melarikan diri ke hutan-hutan Sumatera. Saat berada di hutan antara Sumatera Barat dan Sumatera Utara, ia ditangkap oleh pemerintah dalam keadaan sakit dan kepayahan. Ia dipenjara selama 4 tahun (1962-1966) sebelum akhirnya dibebaskan di era Orde Baru. Ia meninggal di rumahnya di Jakarta Selatan pada 16 Juni 1976.

BACA JUGA


Dari Jakarta, Ibu Kota Indonesia Pindah ke Palangkaraya? Jangan Takut, 9 Negara Ini Sukses Meski dengan Ibu Kota Baru!

Dari Jakarta, Ibu Kota Indonesia Pindah ke Palangkaraya? Jangan Takut, 9 Negara Ini Sukses Meski dengan Ibu Kota Baru!

Memang diperlukan waktu untuk dapat beradaptasi dengan suatu perubahan. Namun, percayalah perubahan ini bisa membawa Indonesia ke arah yang ...

Read more..
Bung Karno pernah berpesan jas merah alias jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Kisah dua pemimpin yang pernah menjadi Presiden Indonesia meski jarang disebut dalam berbagai sumber sejarah ini menjadi salah satu langkah kita untuk melestarikan sejarah. Yuk, perbanyak mengenal sejarah Indonesia untuk kemajuan bangsa. Karena masa depan bangsa ada di tangan kita, Sahabat Trivia!




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Syafrudin Prawiranegara dan Assaat yang Ternyata Pernah Menjadi Presiden RI. Ketahui Faktanya di Sini Yuk!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Natasha Adelina | @natashey

Silahkan login untuk memberi komentar