Puasa di Amerika Serikat dan Jadi Minoritas Memberiku Makna yang Lebih tentang Ramadhan

Puasa di Amerika Serikat dan Jadi Minoritas Memberiku Makna yang Lebih tentang Ramadhan

7.3K
Terhitung sudah tiga kali Ramadhan saya pernah merasakan puasa di Amerika Serikat. Sejak awal saya memulai studi saya sebagai mahasiswa S2 dengan beasiswa Fulbright. Kali ini saya akan berbagi pengalaman singkat saya selama berpuasa di Negeri Paman Sam.

Saya termasuk beruntung, saya tidak hanya berkesempatan untuk menambah wawasan dalam bidang akademia, tetapi juga pengalaman sosial dan agama di Amerika Serikat. Tidak sekali dua kali ada pertanyaan mengenai balutan kain yang menutupi sebagian kepala saya dan sudah biasa saya mendapat tatapan-tatapan tertuju kepada saya (tentunya karena mereka tidak biasa melihat pakaian yang seperti yang saya kenakan). Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi bagian kecil dari kisah seru saya tinggal di Amerika Serikat sebagai minoritas yang membuat saya lebih mengerti akan siapa diri saya sendiri. Saya pernah tinggal di negara lain sebelumnya dan pernah menjadi bagian dari minoritas, tetapi menjadi bagian minoritas dari segi agama, ini pertama kalinya dan bulan Ramadhan saya pun kini memiliki kisah spesial tersendiri.


Kisah Puasaku di Kala Musim Panas


Beberapa tahun belakangan ini, puasa di Amerika Serikat selalu bertepatan dengan musim panas. Saat musim panas, matahari terbit lebih cepat dan terbenam lebih lambat. Oleh karena itu puasa di Amerika Serikat lebih panjang dalam perhitungan jam. Kira-kira 17 jam total puasa dalam satu harinya, tergantung negara bagian, ekstra 5 jam dari yang biasanya dirasakan di Indonesia. Kalau di Indonesia, rasanya puasa 12-13 jam sudah cukup menguras tenaga dan lebih dari itu kita kira sulit. Tapi, ternyata kekuatan niat memang nyata adanya. Puasa 17 jam pun rasanya biasa saja walaupun dengan kegiatan yang padat. Walaupun tidak bisa dipungkiri juga ada tantangan-tantangan tersendiri dalam beribadah dibanding dengan puasa di Indonesia. Salat tarawih adalah salah satu contohnya. Maghrib kira-kira pukul 9 malam dan Isya baru mulai pukul 11 malam. Di jam-jam ini, mata sudah terasa berat bagi saya yang biasanya jam 10 sudah tidur nyenyak.


Puasa Bersama Rekan-Rekan Muslim dari Berbagai Negara


Tahun pertama saya puasa di sana, saya sedang berkesempatan menjalani summer course di University of Kansas. Beberapa penerima beasiswa Fulbright terpilih dari 18 negara yang berbeda berkumpul menjadi satu selama 2 bulan di summer course. Kami semua beradaptasi di sana dan mempersiapkan diri untuk memulai studi pascasarjana di kampus-kampus tujuan yang berbeda. Puasa bulan itu sungguh berkesan karena kami sangat akrab seperti keluarga baru. Kebetulan ada beberapa teman muslim yang sama-sama menjalani puasa dan membuat puasa menjadi lebih mudah karena saya tidak sendirian. Tetapi, tentunya tidak ada potongan jam untuk kelas-kelas seperti di Indonesia. Kursus tersebut sungguh padat dari pagi hingga malam hari dan sering sekali kami harus mengunjungi banyak tempat-tempat setiap minggunya. Untungnya, penyedia beasiswa menjamin adanya makanan halal yang bisa kami bawa pulang untuk berbuka (walau seringnya rasanya tawar tidak penuh bumbu seperti di Indonesia). Tapi, saya bersyukur masih ada makanan dan kami masih diperhatikan oleh kampus.

Kami yang muslim selalu membungkus makanan saat teman-teman lainnya sedang menikmati makan malam pada jam normal. Kami harus menunggu pukul 9 malam. Buka puasa bersama dengan baju tidur adalah salah satu yang membuat kami memiliki hubungan yang sangat erat. Ada 7 orang Muslim dalam kelompok kami itu, dari Libya, Algeria, Oman, Pakistan, Comoros, Sri Lanka, dan saya, dari Indonesia. Setelah berbuka puasa bersama kami akan menuju ke kamar masing-masing untuk tarawih, mengerjakan tugas, atau istirahat. Kadang-kadang kami juga ‘melarikan diri’ di malam hari untuk mencari buka puasa yang lebih layak dan berbumbu di downtown. Yang paling dirindukan saat itu adalah jalan-jalan penuh jualan jajanan warna-warni untuk ifthar atau berbuka puasa seperti di Indonesia, negara asal saya.

Tapi, menjalankan puasa dengan ikhlas dan senang bersama keluarga kedua membayar itu semua.


Puasa dalam Kesibukan Sebagai Mahasiswa S2


Keberuntungan memiliki teman yang juga berpuasa seperti masa-masa awal saya pindah ke Amerika Serikat tidak selalu hadir. Tahun kedua di Amerika, saya sudah selesai menjalani studi tahun pertama saya di Flagstaff, Arizona. Di sana komunitas muslimnya sangat kecil dan tidak ada masjid seperti di Kansas. Musim panas kali itu saya juga harus belajar mati-matian untuk Comprehensive Exam yang akan menentukan kelulusan saya. Saya dan beberapa teman lain harus membentuk study group untuk belajar bersama setiap harinya. Hanya saya yang muslim dalam program studi saya. Saat itu saya baru sadar bahwa sudah bukan saatnya saya minta diperhatikan karena berpuasa, tetapi saya yang harus bisa menyesuaikan dengan keadaan.

Saya adalah minoritas dan saya tidak akan lemah karena itu. Tidak ada alasan juga bagi saya untuk tidak beribadah. Saya tetap belajar dan beraktivitas dengan teman-teman lainnya sambil berpuasa.

Mereka menghargai, mengerti saya berpuasa, dan saya tidak masalah menemani mereka makan sambil menunggu waktu berbuka puasa. Tantangan terbesar tahun itu adalah untuk menjawab pertanyaan, “Kenapa kamu harus berpuasa?”. Mungkin beberapa dari mereka pertama kali mendengar adanya Bulan Ramadhan dan saya bukanlah seorang ahli agama yang dapat menjelaskan dengan rinci. Tetapi, itu menjadi pengalaman tersendiri untuk menjadi salah satu perwakilan muslim di Amerika. Beberapa teman saya kadang penasaran ikut mencoba berpuasa bersama atau ingin menemani berbuka puasa walau saya yang kadang tidak tega mereka harus menunggu sampai pukul 8 malam untuk makan. Sekali dua kali saya ikut bergabung berbuka puasa bersama perkumpulan muslim yang kebanyakan adalah murid-murid saya dari negara-negara Arab, tetapi karena padatnya aktivitas sebagai mahasiswa pascasarjana, saya tidak bisa selalu hadir.


Setelah melalui pengalaman-pengalaman tersebut, saya sadar bahwa selama ini saya beribadah dengan sangat mudah di Indonesia dan membuat saya kurang bersyukur.

Seringnya saya hanya menjalani karena rutinitas tanpa mendalami arti berpuasa itu sendiri. Puasa di negara orang menjadi cerita tersendiri untuk saya karena saya dapat berbagi makna puasa kepada banyak orang di sana dan merasakan puasa yang berbeda dengan beradaptasi dalam setiap keadaan. Tahun ini saya puasa di rumah setelah beberapa tahun berkelana (dan mungkin akan berkelana lagi). Siap-siap akan tarawih di masjid dan memakan segala takjil yang selama ini dirindukan.

Selamat berpuasa untuk semuanya.





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Puasa di Amerika Serikat dan Jadi Minoritas Memberiku Makna yang Lebih tentang Ramadhan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Rya Rochman | @ryarochman

Silahkan login untuk memberi komentar

CREATE ARTICLE

Hey awesome, Join our TRIVIA community
"create articles and get the fans "

Most Views of This Week