Deretan Anak Muda Indonesia yang Berprestasi dan Inspiratif. Berikut Perjuangan Mereka yang Bisa Kamu Tiru, Sahabat Trivia!

Deretan Anak Muda Indonesia yang Berprestasi dan Inspiratif. Berikut Perjuangan Mereka yang Bisa Kamu Tiru, Sahabat Trivia!

3.1K
Kali ini, Trivia menghadirkan beberapa anak muda inspiratif dan mampu membanggakan Indonesia. Mereka berprestasi karena karyanya yang mampu memberi perubahan pada sekitar.

Apa yang ada di dalam benakmu jika mendengar kata 'sukses'? Apakah banyak uang? Apakah berhasil dikenal banyak orang? Apakah karena berhasil mendapatkan yang diimpikan? Semuanya tidak ada yang salah. Tergantung bagaimana perspektifmu dan bagaimana kamu memaknainya.

Kali ini, Trivia menghadirkan beberapa anak muda inspiratif dan mampu membanggakan Indonesia. Mereka berprestasi karena karyanya yang mampu memberi perubahan pada sekitar. Ingin tahu siapa saja mereka? Yuk, disimak sama-sama, Sahabat Trivia!


Jenny Jusuf


Sahabat Trivia pasti sudah tahu film Filosofi Kopi dong ya? Atau bahkan mungkin sudah menonton film adaptasi novel Dee Lestari tersebut? Jenny Jusuf merupakan salah satu ‘dalang’ dari kesuksesan film tersebut. Sebagai penulis skenario film Filosopi Kopi, Jenny Jusuf berhasil meraih Piala Maya 2015 sebagai Penulis Naskah Film Terbaik dalam Bandung Film Festival 2015, dan pemenang penulis skenario adaptasi terbaik dalam Film Festival Indonesia 2015. Keren banget nggak tuh?

Berada di posisinya saat ini, tentu bukan hal yang instan bagi seorang Jenny. Kegemarannya membaca membawanya pada keinginan yang kuat untuk menjadi seorang penulis. Sejak kecil, Jenny melatih kemampuan menulisnya dengan membagikan ceritanya pada teman-teman sekolah dan blog pribadinya.

Demi menuju passionnya sebagai seorang penulis, Jenny pun mulai merintis kariernya sebagai freelance ghost translator, asisten pribadi seorang penulis, jurnalis, hingga penulis skrip program TV. Selain dari pekerjaan yang ia tekuni, Jenny melatih kemampuannya menulis secara otodidak, mulai dari bergabung dengan milis penulis muda, hingga rutin menonton film sebagai salah satu sumber inspirasi tulisannya.

Mimpinya mulai terlihat saat Jenny mendapat tawaran untuk menulis skenario film layar lebar. Tapi, pihak rumah produksi yang bersangkutan menunda proses seleksi yang dilakukan dalam waktu yang cukup lama. Jenny juga mengalami masa-masa yang sulit. Empat tahun dari saat ini, ia pernah menempati apartemen kosong milik sahabatnya setelah tak memiliki tempat tinggal dan pekerjaan. Belum lagi hatinya yang hancur karena pertunangannya terpaksa batal. Jenny yang telah penat dengan hiruk pikuk Jakarta memutuskan untuk pindah ke Ubud, Bali. Ternyata, tak lama setelah kepindahan Jenny ke Ubud, ia mendapat kabar gembira bahwa skenarionya terpilih untuk difilmkan. Menulis skenario film merupakan salah satu mimpinya sejak kecil dan kini mimpi tersebut telah berhasil ia wujudkan lengkap dengan berbagai bonus penghargaan yang ia dapatkan.


Alexander Thian 'Amrazing'


Kamu yang suka travelling, mungkin sudah tak asing dengan traveller yang satu ini, Alexandar Thian atau biasa dikenal dengan sebutan Amrazing. Sebagai seorang traveller, feeds Instagramnya dipenuhi pemandangan indah dari berbagai belahan dunia, mulai dari foto perkotaan, hingga aurora yang bikin merinding siapa pun yang melihatnya. Hari ini di negara A, minggu depan sudah di negara B. Duh, siapa yang nggak ngiler melihatnya? Siapa pun yang melihat feeds Instagram Amrazing pasti akan berpikir bertapa nikmatnya hidup seperti dia.

Tapi, siapa sangka, jangankan kuliah, demi mendapat uang jajan saja, is kecil harus rela mengangkat batu bata di toko material omnya. Amrazing remaja adalah penjaga counter handphone, melayani berbagai macam pelanggan di ruang berukuran 2x2 m2 setiap harinya. Ia bukan hanya merasa galau, tapi juga bosan setengah mati.

Di tengah rasa bosan yang melandanya, ia membagikan uneg-unegnya dalam sejumlah tweet. Kekesalannya pada alur sinetron yang ia tonton saat menjaga counter handphone yang ia tuangkan dalam Twitter ternyata diketahui seorang artis yang kemudian merekomendasikan akunnya hingga mendapat ribuan follower baru. Gaya khasnya dalam bercerita yang ceplas-ceplos memiliki banyak penggemar.

Tanpa disangka-sangka, seorang teman yang merupakan penulis skenario, menawarinya menjadi penulis skenario sebuah sinetron. Keinginannya untuk ‘memperbaiki’ kualitas sinetron di TV pun membuatnya semangat menerima tawaran tersebut. Pada akhirnya, ia tidak menekuni pekerjaannya tersebut. Meski begitu, ia menjadi seorang penulis yang telah berhasil menerbitkan beberapa buku, sekaligus seorang influencer di media sosial.

"Don’t think too much. The more you think about it, the more you won’t do it. Jadi, ya udah, just jump, have faith."


Rachel Goddard


Sahabat Trivia yang hobi lihat tutorial atau review makeup di YouTube pasti sudah tidak asing dengan nama Rachel Goddard. Rachel merupakan salah satu beauty parody vlogger pertama di Indonesia. Hingga saat ini, akun YouTube Rachel sudah memiliki 392K subscribers. Sebagai seorang beauty vlogger, Rachel kini rutin mengupload 2-3 video di akun YouTubenya setiap minggunya. Tinggal di luar negeri, upload video dandan, dan dapat penghasilan dari hal tersebut, tampaknya kok enak banget yah?

Berasal dari keluarga berada, membuat Rachel kecil dan adiknya bisa menikmati berbagai fasilitas dalam hidupnya. Namun, kebahagiaan yang biasa ia rasakan berubah 180 derajat ketika orang tuanya berpisah dan usaha sang ayah mengalami kebangkrutan. Berbagai fasilitas di rumah hingga kendaraan pun dijual dan Rachel beserta adiknya harus tinggal di rumah kakek dan neneknya. Dengan kondisinya saat itu, Rachel sering tak memiliki ongkos untuk ke sekolah. Karenanya, Rachel memutar otak dan membuat pembatas buku yang dijualnya kepada teman-temannya. Kesulitan ekonomi yang ia alami berlanjut hingga ia menjadi mahasiswi. Rachel bahkan harus beberapa hari tak ke kampus karena tak memiliki ongkos dan uang untuk bayar kuliah. Beruntung rektor kampusnya memberi Rachel keringanan untuk membayar usai lulus nanti. Setelah lulus, Rachel bekerja sebagai asisten beauty editor, hingga menjadi managing editor di sebuah media selama 8 tahun. Rachel yang tomboi justru menemukan passionnya pada make up.

Setelah bertemu jodohnya, Ben Goddard, Rachel pun menetap di Inggris sementara waktu. Setelah lima bulan tinggal di Inggris, Rachel harus pindah ke Kazakhstan mengikuti suaminya. Sayangnya, awal mula di Kazakhstan, Rachel menghabiskan waktunya dengan menangis karena rasa bosan dan homesick yang menderanya.

Rasa bosan inilah yang kemudian mendorong Rachel untuk membuat konten-konten YouTube yang hingga kini dikelolanya. Itulah awal mula Rachel menjadi beauty vlogger terkenal.


Kevin Hendrawan


Masa perjuangan Kevin Hendrawan bisa dibilang dimulai saat ia berada di bangku kelas 3 SMA. Saat itu ia yang sebentar lagi akan lulus dan sedang mempersiapkan mencari tempat kuliah, mendapati sang papa jatuh sakit. Pada saat yang bersamaan pula, Kevin sudah diterima di salah satu universitas di Berlin Jurusan Teknik Robot, jurusan yang merupakan impiannya sejak kecil. Namun, kehidupan tidak selamanya berjala manis. Kevin harus menerima jika uang yang seharusnya dipakai ke Jerman, digunakan untuk biaya pengobatan sang papa. Semua mimpi rasanya terkubur, rasa dilema, kecewa, dan kesedihan karena sang papa yang sakit semua bercampur jadi satu.

Di saat Kevin merasa tidak ada lagi harapan, sang mama selalu ada menyemangatinya dan menawarkan untuk memberikan pilihan kuliah di jurusan perhotelan. Menurut mamanya, dengan Kevin kuliah di perhotelan nantinya akan bisa memperbaiki kehidupan dan bekerja di luar negeri. Tanpa pikir panjang, ia pun setuju. Saat itu yang ada di pikirannya hanya satu, dia akan lulus, kembali ke Jerman, bekerja di sana, dan menebus impiannya. Kevin pun masuk ke kampus perhotelan negeri di Bali lewat jalur prestasi. Ternyata, perjuangan Kevin pun baru dimulai. Perkuliahan di tahun pertama terasa sangat sulit, bukan karena pelajarannya, melainkan beban moral sebagai anak laki-laki pertama di keluarga, papa yang sakit, dan membutuhkan biaya besar untuk berobat. Dari situ, ia pun memutar otak untuk bisa membantu keluarganya.

Dengan modal seadanya dan sisa uang yang dimiliki orang tua, Kevin membuka bisnis laundry kecil-kecilan di Bali. Kevin menamakan laundry itu "K3 Laundry". Ia pun mulai mempromosikannya mulai dari membagikan 2000 brosur per hari sampai menawarkan ke hotel-hotel. Berkat kerja kerasnya, laundry itu pun mulai ramai. Perekonomian keluarganya sudah bisa sedikit demi sedikit ia bantu. Namun, ternyata perjuangan belum berhenti sampai di situ. Kevin masih harus butuh biaya untuk menghidupi dirinya sendiri. Dari hasil laundry, ia menyisihkannya untuk membeli kios martabak. Kevin sendiri lho yang membuat adonannya, sepulang kuliah, tiap hari tanpa hari libur. Kevin tahu jika tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Bisnisnya semakin berkembang dan kehidupan perekonomiannya mulai bangkit.

Kevin pun magang di salah satu hotel di Bali sebagai HRD. Setelah jam kerjanya selesai, ia pun bekerja sebagai bellboy. Bekerja di sana, membuat Kevin bertemu dengan salah satu temannya yang menginpirasi. Iia memulai untuk hidup sehat. Pada saat itulah Kevin memutuskan untuk ikut L-Men, bahkan sampai terpilih sebagai L-Men of The Year. Dari sinilah ia mulai masuk ke dunia entertaiment. Prestasinya tidak hanya itu saja. Kevin mulai merambah sebagi presenter televisi nasional, sampai mendapatkan project internasional, dan bergabung dengan National Geographic. Dari Kevin, kita bisa belajar, hidup memang akan selalu penuh dengan kejutan, akan tetapi, jika kita mau berusaha dan melakukan yang terbaik, Tuhan itu Maha Tahu dan tidak akan tinggal diam. Apa yang sudah dengan keras kamu upayakan akan terbayarkan.


Atina Maulia dan Intan Kusuma Fauzia


Kunci dari sebuah keberhasilan adalah tekun dan tidak pernah berhenti untuk terus belajar. Hal inilah yang coba diterapkan oleh dua kakak beradik, Intan dan Atina yang sukses dengan bisnisnya Vanilla Hijab. Kala itu, Atina yang kuliah di Institut Teknologi Bandung dan mengambil Jurusan Teknik Perminyakan merasa kalau impiannya akan segera terwujud setelah dia lulus dari sana. Namun, ternyata kenyataan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Dari sinilah ujian hidup satu persatu coba ia taklukan. Atina terkena penyakit rheumatoid arthritis, bahkan sampai membuatnya tidak bisa berjalan. Dengan sangat berat hati, ia pun berhenti kuliah dan kembali ke Jakarta.

Tidak mau merepotkan orang tua dan mengingat pengobatan yang cukup memakan biaya, Intan pun bertekad untuk mulai menghasilkan uang sendiri. Ia memilih berjualan hijab melalui online. Awalnya ia membeli kerudung di pasar, lalu menjualnya kembali. Atina menggunakan sistem pre-order, sehingga ia pun tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Kerja kerasnya mulai terlihat, pesanan bertambah banyak. Tidak puas hanya di situ, Atina pun ingin memproduksi sendiri kerudungnya yang diberi nama Vanilla Hjab.

Perjuangan belum berhenti. Atina masih harus mencari penjahit dan ia menyadari ini ternyata bukan hal yang mudah. Ia pun sampai mendatangi satu per satu penjahit yang ingin direkrut untuk bisa membuat kerudung Vanilla Hijab. Kini, ia sudah memiliki 50 pejahit dan usahana pun semakin berkembang. Sang kakak yang tidak tega melihat sang adik yang sibuk mengurusi pesanan sendiri, akhirnya ikut turun berbagi peran. Sebagai CEO, Intan memiliki tugas untuk bisa mewujudkan konsep yang diinginkan oleh Atina. Saat itu, toko online masih belum menjamur. Vanilla Hijab menjadi pelopor yang sukses memproduksi hijab instan. Tidak ada sukses tanpa masalah yang menghadang. Atina dan Intan pun pernah mengalami pengalaman pahit. Dari ide-ide yang tidak semuanya disukai, penjualan yang laris manis dan kurang memuaskan, sampai dengan bahan yang ternyata kualitasnya kurang bagus. Namun, semua itu bukanlah halangan. Keduanya menjadikan itu sebagai acuan agar bisa terus berbenah menjadi lebih baik lagi.


Nabila Tarmuzi Alaydrus


Salah satu hal yang menarik dari selebgram adalah foto-fotonya yang kece dan mengundang banyak like di Instagram. Eits, tapi satu hal yang berbeda dari pemilik akun @nabilazirus, salah satu selebgram yang punya konsep unik dalam setiap foto-fotonya. Dari awal, Nabila termasuk yang konsisten lho menggunakan ilustrasi sebagai pemanis dari foto yang ia unggah. Menggambar sudah menjadi hobinya sejak kecil. Berbagai perlombaan sudah ia ikuti sejak TK sampai SMP. Beranjak SMA, Nabila pun mulai membuat desain baju dan membuat mural. Di usianya yang masih muda, Nabila harus kehilangan sang mama untuk selama-lamanya. Kepergian sang mama inilah yang membuat Nabila terpacu untuk hidup mandiri. Ia pun mencoba menjadikan desain grafis sebagai pekerjaan yang ditekuninya secara profesional.

Kalau kamu mengira Nabila kuliah di Jurusan Desain Grafis, kamu salah sangka, Sahabat Trivia. Semua kemampuannya membuat ilustrasi dan menggambar diperolehnya secara otodidak. Nabila pun tidak mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Meskipun begitu, ia tetap rajin membaca buku dan bimbingan dari orang tua yang dulunya adalah dosen di salah satu universitas terkemuka di Jakarta.

Nabila ingin membuktikan jika dengan fokus, konsisten, kemauan yang tinggi dan semangat, akan menjadikan apa yang ia geluti selama ini bisa membuahkan hasil yang terbaik. Kemampuan yang dimilikinya bisa saja lebih baik, meskipun tanpa pendidikan di bangku kuliah karena ia melakukannya sepenuh hati. Nabila tidak hanya menjadi selebgram yang menerima endorse, ia juga fokus membuat mural project dan menjadi ilustrator. Nabila adalah contoh anak muda yang percaya pada passionnya, melakukannya sepenuh hati, dan menjadikan itu sebagai sumber kekuatan pada dirinya untuk bisa menjadi bermanfaat bagi orang lain.


Tontowi Ahmad


Salah satu pemain bulu tangkis yang namanya sedang naik daun karena prestasi gemilangnya dan behasil membawa nama Indonesia harus di kancah internasional adalah Tantowi Ahmad. Tantowi Ahmad merupakan pasangan dari Lilyana Natsir dalam bermain bulu tangkis. Sejak kecil, Tantowi yang biasa dipanggil Owi ini ternyata tidak memiliki cita-cita lho. Keinginannya untuk menjadi atlet bulu tangkis ternyata berawal dari kecintaan sang ayah terhadap olahraga satu ini. Pada awalnya Owi bahkan tidak pernah bermimpi untuk bisa menjadi atlet yang mendunia seperti sekarang. Bahkan, saat dirinya masih kecil, Owi tidak akan berlatih kecuali ada uang saku dari ayahnya. Sang ayah yang sangat tergila-gila dengan bulu tangkis pun akhirnya selalu memberikan uang saku agar Owi mau berlatih seperti kakak-kakaknya. Dibandingkan dengan kakaknya yang juga ikut berlatih, bakat bulu tangkis Owi terbilang paling minim.

Bahkan, di saat sang kakak, Yahya Hasan, sudah merambah karier atletnya di ibu kota, Owi masih saja berlatih bulu tangkis di Desa Selandaka, kampung halamannya. Namun, beselang 2 minggu di kota, sang kakak harus pulang karena sakit keras yang dideritanya dan memaksanya untuk tinggal di rumah dan beristirahat total. Karena keadaan inilah, akhirnya Tantowi tergerak hatinya untuk lebih serius berlatih untuk menggantikan sang kakak. Owi sadar bahwa dirinya adalah satu-satunya harapan sang ayah untuk bisa menjadi atlet bulu tangkis.

Ia pun mulai lebih serius berlatih bersama sang ayah. Bakat Owi di dunia bulu tangkis ternyata sudah mulai tampak ketika dirinya memasuki bangku Sekolah Menengah Pertama. Ia mulai fokus pada keinginannya untuk menjadi seorang atlet bulu tangkis. Namun, karena satu dan lain hal, semangatnya sempat mengendur dan membuatnya nyaris meninggalkan bulu tangkis yang selama ini ia tekuni.

Beruntung seorang pelatih bulu tangkis ganda, Deny Kantono, jeli terhadap bakat yang dimiliki oleh Owi. Ia menelepon Owi dan mengajaknya untuk bergabung di salah salah satu club. Namanya mulai dikenal saat dirinya berpasangan dengan Lilyana Natsir dan mulai mencetak beberapa prestasi, mulai dari dalam negeri hingga luar negeri. Kini, dirinya sudah menjadi atlet yang berhasil membawa dan mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional bersama dengan Lilyana Natsir.


Leilani Hermiasih (Frau)


Namanya Leilani Hermiasih dan dikenal dengan nama panggung "Frau". Sejak kecil, kecintaannya dengan dunia musik ternyata sudah sangat terlihat. Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Frau sudah sangat tertarik dengan alat musik piano. Ia pun mengikuti kursus piano. Namun, ketika masuk di bangku SMP, dirinya terpaksa berhenti untuk kursus karena satu dan lain hal. Tidak hanya pada piano, perempuan kelahiran 2 Mei 1990 ini juga tertarik sekali dengan alat musik gitar bass. Menjadi dirinya yang pandai menciptakan lagu, pandai bermain piano, dan bersuara indah tentu saja banyak yang ia lewati. Frau memang dikenal sebagai pribadi yang sangat unik. Ia menamai barang-barang kesayangannya dengan nama-nama yang bagus, seperti Oskar. Oskar adalah piano digital Roland RD700SX buatan tahun 1990-an yang setia menemaninya untuk menghasilkan karya-karya cemerlangnya. Benda lainnya adalah Amelie, laptop yang juga membantunya dalam menghasilkan sebuah karya.

Untuk merekam musik ciptaannya,` ia bahkan tidak melakukannya di studio rekaman. Hanya bermodalkan Oskar, ia melakukan rekamannya hanya di kamarnya saja dengan bantuan Amelie, laptop kesayangannya. Kemudian, hasil rekamannya pun baru dia bagian di akun MySpace miliknya. Tidak disangka, lagu-lagu miliknya mendapatkan respons positif dan digemari banyak orang. Karena senang bahwa karyanya diterima dengan baik oleh orang banyak, dirinya memutuskan untuk membagikan karyanya secara gratis. Hingga, sedikitnya ada 6 lagu yang terdapat pada albumnya yang ia namai "Starlit Carousel" rilis pada 1 Maret 2010 lalu.

Meski dirinya sangat mencintai dunia seni musik, namun Frau juga tidak pernah main-main soal pendidikannya. Selepas lulus dari SMA, Frau melanjutkan kuliah di Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya, UGM, Yogyakarta. Tidak berhenti sampai di sana, Frau juga berhasil mendapatkan beasiswa Magister Antropologi Sosial (Ethnomusicology) di Queen’s University Belfast, Kerajaan Inggris. Frau membuktikan bahwa dirinya berhasil menjalankan hobi dan pendidikannya dengan baik. Kini sedikitnya sudah ada 18 lagu yang ia ciptakan. Berikut beberapa di antaranya: Something More, Water, Empat Satu, Tarian Sari, Mr. Wolf, Arah, Suspens, Whispers, Glow, I am a Sir, Mesin Penenun Hujan, Rat and Cat, Salahku Sahabatku, Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa. Coba dengarkan karyanya dan selamat menikmati lagu-lagunya Frau ya, Sahabat Trivia!


Wregas Bhanuteja


Wregas Bhanuteja merupakan sutradara muda yang sudah mampu membawa nama Indonesia ke kancah internasional dengan karyanya hebatnya. Wregas besar di kota Yogyakarta bersama dengan keluarganya yang ternyata sudah mencintai seni sejak lama. Pria kelahiran Jakarta, 20 Oktober 1992 ini memang sejak kecil sudah dekat dengan dunia seni pengaruh dari ayah, kakek, dan neneknya. Ayah Wregas senang sekali mengenalkan Wregas dengan puisi-puisi karya Chairil Anwar. Begitu juga dengan kakeknya, R.J.B. Soehendradjati yang notabene adalah seorang dalang. Ditambah lagi pengetahuan kesenian dari sang nenek, Maria Santirini yang pernah menjadi seorang penari Jawa. Bisa terbayang dong bagaimana Wregas sudah sangat akrab dengan kesenian sejak dirinya mash kecil. Tidak heran kalau kini ia sangat tertarik dan mendalami dunia seni perfilman.

Sejak duduk di bangku sekolah pun, Wregas dan teman-temannya tidak pernah absen untuk hadir dalam pameran kesenian, seperti pameran lukisan Eko Nugroho dan pementasan puisi Joko Pinurbo. Makanya di setiap karyanya Wregas, pasti ada sentuhan tradisional yang kental yang dikemas begitu apik olehnya. Untuk menjadi seorang sutradara muda hebat seperti sekarang ini, banyak hal yang harus dilewati oleh Wregas. Dia mendalami ketertarikannya pada dunia perfilman dengan melanjutkan pendidikan ke FFTV di Insititut Kesenian Jakarta (IKJ) dan lulus pada tahun 2014 lalu. Dirinya lulus dengan karya tugas akhirnya yang berjudul Lemantun (2014), yang berkisah tentang lemari warisan dari sang nenek. Karyanya Tugas Akhinrya ini juga mendapatkan penghargaan film pendek terbaik di XXI Short Film Festival 2015 dan film pendek terbaik di Apresiasi Film Indonesia 2015.

Menjadi seorang sutradara yang masih muda dengan karya yang banyak diapresiasi orang, tentu saja membutuhkan perjuangan yang panjang. Setelah lulus kuliah, Wregas sempat menjadi seorang asisten sutradara dari film Nyanyian Musim Hujan (2014) karya Riri Riza dan produser Mira Lesmana. Tidak hanya sampai di sana, Wregas juga terlibat di beberapa film Ada Apa Dengan CInta 2 yang rilis pada 2016 dan film Athira di tahun yang sama.

Hingga kini, sudah banyak karya film pendek yang sudah ia buat, di antaranya film Lembusura (2014), The Floating Chopin (2015), dan Prenjak (In The Year of Monkey yang rilis tahun 2016). Ketiga karyanya yang rampung ia kerjakan dalam 3 tahun terakhir ini berhasil dibawanya ke festival internasional, salah satunya adalah Cannes Film Festival 2016 dan berhasil memenangkan penghargaan Leica Cine Discovery Prize sebagai film pendek terbaik di festival tersebut yang membuat Wregas menjadi sutradara muda pertama dari Indonesia yang berhasil mendapatkan penghargaan di Cannes.


Ria 'Papermoon Puppet Theatre'


Maria Tri Sulistiyani yang lebih dikenal dengan nama Ria Papermoon adalah seorang seniman asal Jogja, lulusan Fakultas Komunikasi, Universitas Gadjah Mada. Ria bukanlah seseorang yang lahir dari keluarga seni. Namun, Ria memiliki kecintaan yang besar pada dunia seni, seni pertunjukan dan seni rupa khususnya. Awal kecintaan Ria pada dunia seni adalah ketika ia pertama berkecimpung di dunia teater. Ia berkecimpung di dunia teater selama empat tahun. Ia bukan jatuh cinta sebagai aktor panggung seperti yang selama ini dikerjakannya, namun ia justru jatuh cinta pada proses sebuah karya pertunjukan.

Setelah ia keluar dari teater tersebut, Ria menyelesaikan kuliah dan ia bekerja sebagai manajer sekaligus desainer di sebuah studio keramik di Yogyakarta. Di tempat inilah ia jatuh cinta pada dunia seni rupa. Ia sempat bekerja di sebuah Taman Kanak-Kanak. Namun, kemudian ia pun memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya tersebut dan merintis sebuah sanggar khusus untuk anak-anak yang diberi nama 'Papermoon'. Papermoon Puppet Theatre lahir setelah ia menjalankan sanggar ini selama dua tahun.

Papermoon Puppet Theatre menggabungkan seni rupa dan seni pertunjukan. Teater ini pun tidak hanya untuk anak-anak, tapi juga bisa dinikmati oleh segala usia. Boneka-bonekanya unik dan tidak hanya digerakkan dan dihidupkan oleh satu orang yang didukung oleh sistem pencahayaan, musik, dan tata busana sesuai cerita yang diangkat. Dalam prosesnya, Ria dibantu oleh sang suami, Iwan Effendi. Duo suami istri ini pun mampu berkolaborasi dengan baik dan mampu membuat karya mereka dikenal dan menginspirasi banyak orang, tidak hanya di Indonesia, namun juga luar negeri. Mereka dan tim pun justru lebih banyak tampil di luar negeri daripda di Indonesia sendiri, seperti di negara Malaysia, Korea, India, Jepang, Amerika Serikat, dan Inggris. Bahkan mereka kerap diundang ke luar negeri sebagai dosen tamu. Menginspirasi sekali, bukan?

Kerennya lagi, Ria pun kini kerap membawa Lunang, anaknya, dalam perjalanan-perjalanannya. Ia mengaku tak mau ketinggalan momen berharga Lunang. Bagi Ria, keinginan mewujudkan mimpi tidak harus melepaskan mimpinya yang lain, yakni menjadi ibu yang senantiasa mendampingi perkembangan sang putra. Selain itu, ia dan suami pun menggagas sebuah acara, yaitu Pesta Boneka, sebuah festival boneka di mana orang bisa menikmati pertunjukan boneka dari para seniman boneka dari berbagai negara dan hadir setahun sekali dan diadakan di Jogja. Di festival ini, kamu bisa belajar bagaimana sebuah pertunjukan teater boneka bisa menyampaikan pesan dan juga merepresentasikan budaya dari berbagai macam negara.


Gita Savitri Devi


Buat Sahabat Trivia yang mengikuti perkembangan YouTube pasti sudah tidak asing dengan nama ini. Gita adalah mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di Jerman. Awalnya ia kerap mengunggap video covering lagu. Lalu, ia pun memulai membagikan video-video yang memperlihatkan kesehariannya selama kuliah di Berlin, Jerman. Vlognya pun dianggap menarik dan disukai banyak anak muda karena dianggap dekat dengan subscribernya.

Gita bukanlah anak muda yang gemar memperlihatkan kehidupan glamor atau sekadar kekinian. Ia justru senang memperlihatkan kesehariannya sebagai mahasiswa yang harus menghemat uang sehari-hari karena hidup di negeri orang, senang membagikan hal-hal baru, sharing tentang pendidikan di Jerman, berbagi tips seputar kuliah di luar negeri, dan beropini mengkritisi hal-hal besar yang sedang terjadi. Hal-hal inilah yang jadi daya pikat Gita. Ia dianggap sebagai anak muda yang 'beda', mementingkan pendidikan, kritis, dan menginspirasi banyak anak muda.

Pada awal kuliahnya di Jerman, ia belum mengenakan hijab. Justru di negara orang yang notabene muslim adalah minoritas, Gita terpanggil untuk mengenakan hijab. Ia pun kerap berbagi hal-hal yang berkaitan dengan agamanya dan membuka wawasan anak muda. Ternyata, tak jarang dari subscribernya yang mengaku kalau mereka memakai hijab itu karena Gita lho.

Kini, makin banyak orang yang mengenal Gita. Kepulangannya ke Indonesia pun disambut banyak orang. terbukti Gita kini banyak diundang media, brand, maupun acara-acara di tanah air. Meski pun kini ia jadi orang yang terkenal, Gita tetap humble. Meski pun sibuk, ia tetap berusaha konsisten untuk mengupload video-videonya di YouTube dua kali seminggu. Ia masih tetap mengedit video-videonya sendiri lho. Ia bahkan rela untuk tidur sebentar demi tetap membagikan video di YouTube channelnya.

Yang lebih membanggakan lagi, belum lama ini, ia menjadi salah satu YouTuber dari Indonesia yang diundang oleh YouTube ke London untuk menghadiri acara yang diadakan oleh YouTube. Di sana, ia bertemu dengan YouTuber lain dari berbagai negara. YouTuber yang diundang adalah para YouTuber yang dianggap melakukan perubahan untuk dunia, memberi pengaruh positif terhadap masyarakat dan dunia. Menginspirasi dan membanggakan sekali, bukan?


Annisa 'Potter' Hasanah


Annisa adalah salah satu anak muda kebanggaan Indonesia berikutnya. Ia adalah lulusan IPB yang kemudian mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya di Jerman. Selama di Jerman, ia kuliah dan juga menjelajah banyak negara di Eropa. Tak jarang ia juga melakukan solo travelling lho. Diakuinya bahwa travelling membuatnya belajar bagaimana bertahan hidup, lebih melihat dunia, dan belajar banyak hal baru.

Pengalamannya selama ia melakukan perjalanan pun dibukukan. Buku Student Traveler karyanya adalah buku pertama yang ia lahirkan dan kini pun memiliki lanjutannya, yaitu Student Traveler 2. Di dalam bukunya, ia membagikan pengalaman asyiknya bisa kuliah di luar negeri sambil memanfaatkan waktu yang ada dengan menjelajah negara-negara di sekitarnya. Di dalam bukunya pun memuat suka duka selama ia melakukan perjalanan dan tips bagaimana travelling dengan asyik, seru, dan meaningful.

Hal membanggakan lain darinya adalah ia membuat sebuah board game yang menggabungkan permainan dan juga memberikan edukasi kepada anak-anak tentang lingkungan. Board game yang ia buat diberi nama 'Ecofunopoly'. Awalnya ia merasa sedih ketika naik angkot di Bandung, ia melihat dengan langsung bagaimana seorang ibu dengan cueknya menyuruh anaknya membuang sampah sembarangan, yaitu dengan membuang sampah di jalan dengan melempar keluar dari jendela angkot. Dari sinilah ia tergerak untuk membuat sesuatu. Ide 'Ecofunopoly' pun hadir. Ia membuat permainan monopoli dan menyelipkan edukasi tentang lingkungan di dalamnya. Ia berharap anak-anak belajar tentang lingkungan dengan cara menyenangkan dan sedini mungkin anak-anak diperkenalkan pengetahuan tentang lingkungan karena kondisi lingkungan kita adalah tanggung jawab kita semua, kan?

Ia pun rajin membawa board game ciptaannya ini ke lingkungan sekitarnya dan memperkenalkannya kepada lebih banyak orang. Terbukti banyak sekali foto-foto Annisa dan tim di akun media sosialnya yang mengajak anak-anak bermain Ecofunopoly di berbagai kesempatan.

Kini, ia pun kerap diundang ke berbagai negara untuk mewakili Indonesia dan diundang di berbagai acara untuk bisa jadi inspirasi anak muda lain. Annisa ini tergolong remaja yang gigih, berani mencoba, mau belajar hal baru, dan juga konsisten mewujudkan mimpinya. Buatnya, bisa pergi ke banyak tempat itu menyenangkan karena bisa belajar banyak hal baru, bertemu dengan orang-orang baru, dan belajar bertahan hidup serta menyelesaikan masalah. Dan menciptakan 'Ecofunopoly' itu bukanlah sekadar bisnis, ada yang ingin ia ubah dalam masyarakat, yaitu kesadaran mencintai dan menjaga lingkungan. Semoga akan ada lebih banyak anak muda seperti Annisa di kemudian hari ya, Sahabat Trivia.

BACA JUGA


Angga Dwimas Sasongko Lakukan Aksi Keren Ini Jika Film Filosofi Kopi 2 Tembus 800 Ribu Penonton. Selain Angga, Deretan Sutradara Muda Lain Ini Tak Kalah Keren dan Penuh Inspirasi!

Angga Dwimas Sasongko Lakukan Aksi Keren Ini Jika Film Filosofi Kopi 2 Tembus 800 Ribu Penonton. Selain Angga, Deretan Sutradara Muda Lain Ini Tak Kalah Keren dan Penuh Inspirasi!

Kalau film Filosofi Kopi bisa tembus 800 ribu penonton, Angga Dwimas Sasongko sebagai sutradara bakal ngajar gratis di SMK di 6 kota besar ...

Read more..

Semoga apa yang mereka laukan bisa jadi inspirasimu ya, Sahabat Trivia. Jika kamu punya kisah dari anak muda inspiratif lain di sekitarmu, silakan bagikan kisah perjalanan mereka atau inspirasi dari mereka yang bisa kita semua pelajari di Trivia.id. Kami tunggu kisah-kisah inspiratif darimu.

Untuk memposting kisah-kisah inspiratif tersebut, silakan baca informasi lengkapnya di sini.


Penulis: Rezita Rani, Qiqi Nur Indahsari, Ulfa Sekar Langit, Resty Amalia

Editor: Resty Amalia







Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Deretan Anak Muda Indonesia yang Berprestasi dan Inspiratif. Berikut Perjuangan Mereka yang Bisa Kamu Tiru, Sahabat Trivia!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Trivia | @triviaid

Real stories of real life people

Silahkan login untuk memberi komentar