Industri Penyiaran untuk Millennials. Begini Cara Millennials Mengembangkan Bakat dan Passion di Bidang Penyiaran Masa Kini!

photo credit: cbsistatic

Industri Penyiaran untuk Millennials. Begini Cara Millennials Mengembangkan Bakat dan Passion di Bidang Penyiaran Masa Kini!

557
Seiring dengan maraknya perkembangan teknologi digital di negara kita, jurnalisme online perlahan-lahan menjadi pesaing ketat jurnalisme konvensional seperti media cetak, televisi, dan radio.

Siang itu, ruang Auditorium Galeri Smart Fren yang terletak di Jl. Sabang No. 45 Jakarta Pusat dipenuhi oleh para generasi millennials yang akan menghadiri kegiatan M-Talks yang diadakan oleh Rumah Millennials. Seiring dengan maraknya perkembangan teknologi digital di negara kita, jurnalisme online perlahan-lahan menjadi pesaing ketat jurnalisme konvensional seperti media cetak, televisi, dan radio. Bertambahnya jumlah pengguna teknologi ini semakin mudah juga koneksi internet yang didapatkan berdampak pada banyaknya informasi yang bisa diakses melalui kanal-kanal berita online yang fleksibel, atraktif, dan informatif.


Pembicara yang keren dan aktraktif

photo credit: FitriYentiDirta

Di sesi pertama yang dimulai pukul 10.00 – 11.30 WIB hadir Karina Soerja sebagai moderator yang berprofesi sebagai penyiar Radio Mustang FM, Samirah Begum yang merupakan reporter dari Metro TV, dan Nendra Rengganis yang mengelola media online anak muda.

Di sesi yang berdurasi 90 menit ini, banyak sekali insight yang bisa didapatkan generasi millennials dalam era penyiaran saat ini. Baik itu di industri penyiaran radio maupun penyiaran televisi. Di era yang serba “gadget minded” ini, menurut Samirah Begum, sebagai jurnalis zaman now, integritas yang dimilikinya tidak hanya urusan pekerjaan di lapangan, tetapi juga kesehariannya dalam menjalani hidup dan menggunakan media sosial.

Nendra Rengganis mengatakan bahwa perjuangan mengelola medianya yang bermula di Yogyakarta bukanlah tanpa kendala. Dengan salah seorang temannya ketika mereka baru lulus kuliah dari sebuah perguruan tinggi negeri di kota gudeg, media online yang dikelolanya lahir tahun 2014 silam. Memutuskan untuk tidak bekerja kantoran, Nendra dan tim yang kini berjumlah puluhan orang mengelola media tersebut yang sekarang menjadi media yang banyak dibaca oleh generasi millennials. Perempuan manis berhijab ini menekankan bahwa apa yang harus dilakukan berasal dari niat dan passion yang dimiliki. Tantangan dan hambatan akan ada terus, tetapi yang penting bagaimana kita mencari solusi atas permasalahan yang ada.


Bijak menggunakan sosial media dan menjadi jurnalis yang independent

photo credit: FitriYentiDirta

Sesi kedua kegiatan ini dimulai pukul 12.30 dibuka oleh Enda Nasution yang merupaka Digital Expert dan Executive Director Gerakan 1000 Start Up di Indonesia. Pria dengan latar belakang pendidikan Teknik Sipil ini memulai penjelasan bagaimana media sosial digunakan sebagai gerakan-gerakan melawan ketidakadilan. “Saya memulai semuanya ketika bersama rekan-rekan menggaungkan kampanye “Koin untuk Prita” di tahun 2008 silam,” ujarnya sembari memaparkan bagaimana kampanye itu sukses mengumpulkan Rp 800 juta uang koin. Dalam proses yang sedemikian panjang beberapa bulan yang lalu Enda dan rekan-rekannya juga menggaungkan kampanye “Bijak Bersosmed” sebagai bentuk rasa keprihatinan atas ujaran kebencian, sara, dan mudahnya orang-orang tersulut emosi di sosial media.

Talkshow siang itu dihadiri pula oleh Gustav Aulia, seorang jurnalis yang telah malang melintang berpengalaman di industri televisi. Menurut Kang Gustav, begitu beliau akrab disapa, “Butuh perjuangan untuk menjadi seorang jurnalis yang bisa menyampaikan informasi-informasi yang bebas dari kepentingan.” Menjadi seorang jurnalis untuk televisi harus rela menghabiskan waktu hampir 24 jam untuk tugas dan pekerjaan kita. Jika generasi millennials merasa mampu dan sesuai dengan skill yang dimiliki, kenapa tidak? Kejarlah mimpi itu! Kang Gustav juga menjelaskan bahwa dalam menjalankan tugas kita juga perlu berempati terhadap hal-hal di sekeliling ketika kita menjadi reporter di lapangan.


Regulasi industri penyiaran melalui sebuah lembaga bernama Komisi Penyiaran Indonesia

photo credit: FitriYentiDirta

Talkshow dari Rumah Millennials juga menghadirkan Bapak Yuliandre Darwis sebagai Ketua Komisi Penyiaran Indonesia dan Ketua Umum ISKI. Sebagai pejabat publik yang menaungi KPI, Uda Andre, begitu beliau akrab disapa, menjelaskan fungsi KPI yang berbeda dengan lembaga-lembaga negara lainnya. Media di negara kita saat ini dihadapkan pada kepentingan negara, bisnis, maupun masyarakat. Jadi, apapun industri penyiaran di negeri ini harus mengacu kepada tiga hal tersebut. Media digital yang semakin menanjak perkembangannya saat ini belum memiliki Undang-Undang Digital secara resmi dan mumpuni untuk mengatur konten-konten yang tersebar di dunia maya. Untuk itu, Komisi Penyiaran Indonesia berharap dalam waktu yang tidak lama undang-undang tersebut bisa disahkan oleh wakil rakyat.

BACA JUGA


Bukan Millennials, Tapi Generasi Ini yang Akan Menguasai Media!

Bukan Millennials, Tapi Generasi Ini yang Akan Menguasai Media!

Kalau kamu akrab dengan sebutan generasi millennials, mungkin sudah saatnya kamu lebih mengakrabkan diri dengan sebutan generasi Z yang ...

Read more..

Indutri televisi Indonesia yang masih belum memiliki kualitas yang baik juga menjadi sorotan dari Ketua Komisi Penyiaran Indonesia hari itu. Penonton sekarang ini lebih menyukai film-film televisi import yang memiliki kualitas lebih baik dibandingkan sinetron-sinetron Indonesia. Di akhir diskusi, Pak Yuliandre berharap dari dunia digital hadir konten-konten yang lebih kreatif, unik, menginspirasi, dan membangun semangat anak muda.


Penulis:Fitri Yenti Dirta




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Industri Penyiaran untuk Millennials. Begini Cara Millennials Mengembangkan Bakat dan Passion di Bidang Penyiaran Masa Kini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Trivia | @triviaid

Real stories of real life people

Silahkan login untuk memberi komentar