Mengintip Proses Lahirnya Novel Karya Dewi ‘Dee’ Lestari yang Paling Dinantikan, ‘Inteligensi Embun Pagi’

Photo Credit: Dewi Lestari

Mengintip Proses Lahirnya Novel Karya Dewi ‘Dee’ Lestari yang Paling Dinantikan, ‘Inteligensi Embun Pagi’

20.1K
Setelah mendapat petunjuk dari upacara Ayahuasca di Lembah Suci Urubamba, Gio berangkat ke Indonesia. Di Jakarta, dia menemui Dimas dan Reuben. Bersama, mereka berusaha menelusuri identitas orang di balik Supernova. Di Bandung, pertemuan Bodhi dan Elektra mulai memicu ingatan mereka berdua tentang tempat bernama Asko. Sedangkan Zarah, yang pulang ke desa Batu Luhur setelah sekian lama melanglangbuana, kembali berhadapan dengan misteri hilangnya Firas, ayahnya. Sementara itu, dalam perjalanan pesawat dari New York menuju Jakarta, teman seperjalanan Alfa yang bernama Kell mengungkapkan sesuatu yang tidak terduga. Dari berbagai lokasi yang berbeda, keterhubungan antara mereka perlahan terkuak. Identitas dan misi mereka akhirnya semakin jelas. Hidup mereka takkan pernah sama lagi. (Inteligensi Embun Pagi, Dewi 'Dee' Lestari)
Photo Credit: Dewi Lestari

Setelah munculnya novel seri Supernova, Gelombang, kelanjutan cerita tersebut sangat dinanti-nantikan. Pembaca karya-karya Dee tak hanya menantikan lanjutan dari kisah di novel tersebut. Namun, para pembaca juga penasaran dengan kisah yang ada di buku Inteligensi Embun Pagi (IEP) yang merupakan penutup serial Supernova tersebut. Begitulah menurut Dee.

Menurut Dee, semua tokoh utama yang ada di tiap buku seri Supernova akan bertemu di buku Inteligensi Embun Pagi. Dan tentunya akan ada penyelesaian dan jawaban atas teka-teki kisah dan masalah yang ada di tiap buku Supernova. Jika kamu penasaran dengan kisah-kisahnya, kamu bisa membaca segera bukunya yang saat ini sudah mulai bisa dipesan/dibeli, salah satunya di Toko Buku Online KutuKutuBuku.com.

Inteligensi Embun Pagi sudah menjadi banyak perbincangan orang dan sangat dinantikan bahkan sebelum dibuat draftnya sekitar setahun yang lalu. Pertanyaan pembaca tentang kapan terbitnya buku ini pun tak terhitung lagi didengar ataupun diterima oleh Dee. Karena menjadi karya yang sangat dinanti-nantikan oleh pembaca, yuk kita intip proses lahirnya karya ini yang pastinya sangat menarik untuk diketahui oleh para pembaca setia karya Dee.


Dee Membuat Draft IEP dengan Sangat Rinci

Photo Credit: Dewi Lestari

Dee betul-betul membuat perencanaan cerita dengan sangat rinci. Ia pun membuat pemetaan cerita dengan sangat detail di atas kertas berwarna-warni yang ia tempel di salah satu sudut dinding rumahnya. Setiap hari pun ia menyusun detailnya secara bertahap dan terencana.


Dee Sangat Fokus dan Sesekali Keluar dari Rumah dan Mencari Tempat untuk Menyelesaikan Naskahnya

Photo Credit: Dewi Lestari

Dee merasa perlu untuk menyendiri dan fokus menyelesaikan tulisannya. Ia pun sesekali pergi keluar, ke café misalnya untuk menulis. Tak lupa ia membawa serta benda-benda yang dibutuhkannya, seperti laptop, notebook, pulpen, kacamata, dan headphone untuk menemaninya menulis. Pernah suatu kali ia pergi ke sebuah café dan ternyata dua rombongan arisan yang membawa anak-anaknya kumpul di sana. Dee pun jelas merasa tak bisa berkonsentrasi dengan keadaan ramai dan dengan kondisi banyak anak yang berlarian. Akhirnya Dee pun meminta pihak café tersebut memberikan tempat yang tenang. Dee pun diberikan sebuah tempat yang sepi, tenang, dan ditemani beberapa karung stok biji kopi persediaan café tersebut. Dee benar-benar menulis 4.500 kata selama kurang lebih 8,5 jam pada saat itu.


Dee Memiliki Jadwal yang Ketat dan Sangat Terorganisir untuk Menulis

Photo Credit: Dewi Lestari

Dee sangat fokus dan memiliki komitmen tinggi untuk menyelesaikan tulisannya. Tak heran, ia pun membuat jadwal yang sangat ketat dan terorganisir untuk menulis. Misalnya, setiap selesai menulis, ia mencatatnya di catatan miliknya. Ia juga memiliki target tiap kali menulis. Ia berujar bahwa jika ada hari di mana ia tak menulis, itu berarti seperti hutang yang harus ia bayar di hari yang lain. Berarti ia harus menulis lebih di hari yang lain dan terus mencatat progres menulisnya di catatan yang ia punya.


Dee Menghabiskan Waktu 9 Bulan untuk Menyelesaikan Naskah IEP

Photo Credit: Dewi Lestari

Bagi Dee, menulis naskah IEP merupakan sebuah perjuangan panjang. Saat menyelesaikannya, Dee berujar rasanya seperti melahirkan bayi yang sudah 9 bulan dalam kandungan. Karena naskah IEP pun diselesaikannya dalam waktu kurang lebih 9 bulan.

"Sebuah karya memang bagaikan anak milik sang pencipta yang penuh kerja keras dan perjuangan dilahirkannya."


Ada Saja Kejadian Mengejutkan di Sela-Sela Proses Penulisan IEP

Photo Credit: Dewi Lestari

Di saat Dee keluar rumah untuk menuliskan bagian-bagian akhir IEP, sebuah kebetulan manis datang. Dua pria yang duduk di depan mejanya saat itu begitu menggambarkan kejadian yang sedang Dee tuliskan dalam bagian akhir IEP. Dee pun sontak kaget dan teringat jalan cerita karakter-karakter yang diciptakannya, yaitu Dimas dan Reuben. Reuben yang pernah berkata, “Kebetulan-kebetulan ini bukan hasil dari kausalitas. Melainkan sinkronisitas.”

"Dua pria yang duduk di depannya saat itu mengingatkan Dee bahwa sinkronisitas itu memang nyata adanya."


Segala Cara Dilakukan Dee untuk Menulis dan Menyelesaikan Naskah IEP

Photo Credit: Dewi Lestari

Dalam proses penulisan IEP, Dee mengaku telah melakukan berbagai macam cara. Dari menulis subuh, menulis malam, menulis menggunakan story board, menulis tanpa menggunakan story board, single plot, multiple plots, kerja di rumah, kerja di luar rumah, kerja hening, maupun kerja dengan mendengarkan musik. Segala dilakukannya untuk mencari suasana ternyaman yang ia bisa dapatkan.


Dee Memiliki Lagu/Musik Istimewa untuk Menemaninya Menulis Naskah IEP

Photo Credit: Dewi Lestari

Sudah lama Dee memiliki kebiasaan menulis tanpa mendengarkan musik karena baginya seringkali musik membuat pikiran dan konsentrasinya terpecah. Terutama musik dengan lirik. Jika memang ingin menulis sambil mendengarkan musik, musik instrumenlah yang ia pilih. Tetapi, ketika ia menulis IEP ada beberapa lagu yang setia menjadi temannya menulis. Lagu-lagu ini diakuinya ampuh untuk membuatnya lebih konsentrasi dan membangun moodnya dalam menulis. Terutama ketika ia sedang menulis di café dan lagu-lagu inilah yang membantunya meredam musik yang ada di café tersebut dan ia dengarkan melalui headphone miliknya.

Ia pun menganjurkan para pembaca IEP untuk mendengarkan lagu-lagu ini ketika membaca buku IEP dan berharap para pembaca memiliki pengalaman yang berbeda.


Dee Menulis Selama 6-8 Jam per Hari

Photo Credit: Dewi Lestari

Dee berusaha untuk konsisten untuk menulis 6-8 jam per hari. Ia pun tetap berusaha untuk menyeimbangkannya dengan melakukan kegiatan lain dan hobi memasaknya di sela-sela kesibukannya menyelesaikan naskah IEP. Bahkan, Dee pun masih bisa bekerja ketika sambil perawatan di salon.

"Karya bagus memang dilahirkan dari sebuah kerja keras."


Dee Sering Terbawa Perasaan Menjelang Akhir Cerita IEP

Photo Credit: Dewi Lestari

Dee sering terbawa perasaan dan ikut merasakan apa yang sedang ditulisnya. Dirinya justru sangat menyukai proses ini karena memang ia selalu ingin menulis sesuatu yang membuatnya merasa bersemangat, terbawa perasaan, sedih, tertawa, emosional baik ketika berperan menjadi penulis maupun pembaca.


Battling saat Menulis ‘Keping 67’

Photo Credit: Dewi Lestari

Dee mengaku bergulat selama hampir seminggu untuk menyelesaikan ‘Keping 67’. Baginya, ini adalah sebuah kerja keras. Saat itu, ia pun berjanji untuk menghadiahi dirinya sendiri satu cone es krim durian setelah menyelesaikan kerja keras ini.


Draft Pertama IEP Dicetak di Atas Kertas Berukuran A5 Sebanyak Kurang Lebih 600an Lembar

Photo Credit: Dewi Lestari

Tadinya Dee berencana untuk mencetak draft pertama IEP di atas kertas A4 seukuran dengan setting yang ada di laptopnya. Tetapi, ia berpikiran lain. Ia pun berharap draft pertama ini memiliki ukuran yang mirip dengan buku IEP versi cetak agar rasanya mirip dengan membaca buku versi cetaknya ketika membacanya. Akhirnya, ia pun mencetaknya di atas kertas berukuran A5 dan hasilnya jumlah halamannya makin banyak. Ia pun akhirnya membagi naskah tersebut menjadi 3 bagian agar lebih mudah untuk dibawa.


Print out Bakal Calon Buku IEP Diantar oleh Abang Gojek ke Rumah Dee

Photo Credit: Dewi Lestari

Ketika Jakarta sedang chaos beberapa saat lalu, seorang abang Gojek mengantarkan bakal calon buku IEP dari penerbit ke rumah Dee. Dee pun behagia dan berterima kasih karena abang Gojek sudah mengantarkannya dengan selamat sampai tujuan. Ini adalah hasil cetakan bakal calon buku IEP yang masih dicetak dengan printer biasa di kertas HVS dan dijilid lakban, tetapi sudah cukup menyerupai buku aslinya.


Semua Anggota Keluarga Dee Membantu Dee Menyusun Halaman Buku yang Harus Ditandatangani Dee Karena Ada Ribuan Buku Pre Order yang Harus Ditandatanganinya

Photo Credit: Dewi Lestari

Para pembaca karya Dee sudah bisa melakukan pre order buku IEP dengan tanda tangan asli Dee. Dee pun harus menandatangani ribuan buku yang harus dikirim kepada pembaca-pembacanya. Ia merasa bersyukur bahwa semua anggota keluarga dan asisten rumahnya mau membantunya menyusun naskah-naskah yang harus ditandatanganinya.


Demikian proses panjang, menarik, dan penuh haru biru dari lahirnya karya Dee yang paling dinantikan saat ini, Inteligensi Embun Pagi. Terbukti memang, jika sesuatu yang bagus dan hebat memang membutuhkan perjalanan panjang dan proses yang penuh kerja keras untuk dilalui.

Apakah kamu sudah memesan/membeli buku terbaru Dewi ‘Dee’ Lestari ini? Jika belum, dapatkan segera buku ini di Toko Buku Online Kutukutubuku.com. Jadilah pembaca awal karya yang paling dinantikan ini. Dapatkan segera sebelum kehabisan!


Sponsored by:





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mengintip Proses Lahirnya Novel Karya Dewi ‘Dee’ Lestari yang Paling Dinantikan, ‘Inteligensi Embun Pagi’". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Resty Amalia | @restyamalia

Writer, Managing Editor of Trivia.id, teacher, reader, learner, Penikmat Seni, enjoy music, love Jazz, photography, cooking, traveling and day-dreaming. My blog: restyamalia.com

Silahkan login untuk memberi komentar