Tugas Kuliah Buat Kampanye yang Bikin Kontroversi? Jangan Salah! 5 Proyek yang Berawal dari Tugas Kuliah Ini Positif Banget!

Tugas Kuliah Buat Kampanye yang Bikin Kontroversi? Jangan Salah! 5 Proyek yang Berawal dari Tugas Kuliah Ini Positif Banget!

353
Asli Indonesia, proyek-proyek yang semula hanya untuk tugas kuliah dalam kelas, ternyata membawa kesuksesan di luar kelas juga, lho!

Sahabat Trivia, kampanye CELUP (Cekrek, Lapor, Upload) yang viral di media sosial baru-baru ini mengundang banyak kecaman dan reaksi negatif. Bagaimana tidak? Kampanye buah tugas mata kuliah sekelompok mahasiswa ini dianggap mengganggu privasi, bertentangan dengan UU ITE, dan tidak mendidik. Banyak kalangan yang kemudian menyayangkan mahasiswa sebagai pemegang tonggak keberlangsungan bangsa malah mempelopori gerakan yang dianggap tidak layak ini. Tapi, tahukah kamu Sahabat Trivia? Tidak semua proyek hasil dari tugas kuliah itu berkembang ke arah negatif atau nggak berguna, lho! Berawal dari tugas kuliah, para pelopor usaha di berbagai bidang ini menunjukkan bahwa perencanaan dan penggarapan yang matang bisa membawa mereka tidak hanya sukses di dalam kelas, tapi juga di luar kelas! Penasaran? Yuk, kita simak, Sahabat Trivia!


1. Kaskus – situs komunitas

photo credit: Tempo

Selama menempuh pendidikan di Art Institute of Seattle, Amerika Serikat, di jurusan Multimedia & Web Design, Andrew Darwis mendapat sebuah tugas kuliah untuk membuat situs pribadi. Di saat teman-teman sekelasnya sibuk membuat situs pribadi berisi pengalaman-pengalaman atau keseharian mereka, Andrew yang mengetahui bahwa e-commerce sedang banyak digandrungi di Indonesia malah membuat situs komunitas yang kini kamu kenal sebagai Kaskus. Situs tersebut mulanya ditujukan untuk komunitas mahasiwa Indonesia di Seattle secara khusus dan Amerika Serikat secara umum. Tak disangka, sang dosen menyukai situs ini dan memutuskan membimbing Andrew lebih lanjut untuk mengembangkan Kaskus. Bersama kedua temannya yang lain, Ronald Stephanus dan Budy Dharmawan. Jatuh bangun bertahun-tahun dalam merintis startup ini, proyek tugas kuliah inipun akhirnya menjadi komunitas daring terbesar di Indonesia.


2. Hen’s Instant Omelette – makanan instan

photo credit: Radar Bogor

Saat mendapat tugas untuk mata kuliah pemasaran, sekelompok mahasiswa jurusan Manajemen Bisnis di IPB yang digawangi M. Harrun Al Rasyid dan Izzan Faikar Premairyana ini menciptakan inovasi baru, yaitu tepung telur dadar instan! Ide untuk membuat produk ini semula didapat ketika Harrun teringat akan tugas penelitian tentang tepung telur yang dilakukannya selama menempuh jenjang sarjana di jurusan Teknologi Pangan IPB. Merasa belum ada produk serupa di pasaran, Hen’s Instant Omelette pun lahir sebagai alternatif bagi pendaki gunung atau traveller yang semula harus kerepotan membawa telur dalam perjalanan. Apalagi, produk ini mampu bertahan hingga satu tahun.


3. A Tale of Forgiveness – buku cerita bergambar untuk anak

photo credit: Jawa Pos

Han Chandra merupakan seorang model yang tengah meniti karir modelling internasionalnya di Hong Kong ketika melakukan kerja paruh waktu sebagai pengisi ilustrasi konten pendidikan anak. Han sendiri mengaku, meski karier modellingnya tampak menjanjikan, membuat ilustrasi baik dengan melukis atau menggambar adalah passionnya. Sepulangnya ke Indonesia, ia melanjutkan sekolah di jurusan Digital Media Design di LaSalle College, Jakarta. Saat berkuliah itulah, Han mendapat tugas untuk membuat cerita anak. Berangkat dari pengalamannya di Hong Kong pula, Han kemudian membuat buku cerita sekaligus ilustrasi berjudul A Tale of Forgiveness. Buku ini bercerita mengenai persahabatan seorang anak laki-laki dan seekor beruang dengan banyak pesan tentang indahnya saling memaafkan. Semula, Han hanya memproduksi buku-buku tersebut secara mandiri untuk dibagikan ke sanak saudara. Namun, karena iseng, ia mengirimkan bukunya ke penerbit. Kini, versi bahwasa Indonesianya dengan judul “Tentang Memaafkan” telah diluncurkan pada Agustus 2017 lalu.


4. Ojek Lusi – film dokumenter

photo credit: UMN

Tengah menempuh perkuliahan di program studi Film dan Televisi Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang, Antonius Wilson, Dominikus Winner, dan Cornelius Kurnia, ditugaskan untuk membuat film dokumenter. Hendak membuat sesuatu yang berbeda, ketiganya berangkat ke Sidoarjo, Jawa Timur untuk mengulas sisi ironis kehidupan para korban luapan lumpur yang telah 11 tahun menjerat masyarakat lokal. Dalam film dokumenter ini, dibahas tiga tukang ojek, Gio, Dowo, dan Mino yang kehilangan pekerjaan awalnya dan kini menjajakan “wisata” bencana ke rumah mereka. Tak hanya sukses di dalam kelas, film dokumenter sarat inspirasi dan menggugah empati ini berhasil membawa pulang juara 2 Ruedi Hofmann Media Awards Festival Film Puskat 2017 untuk kategori Film Dokumenter.


5. SMITH Men Supply – produk perawatan rambut pria

photo credit: Bisnis Indonesia

Michael Nugroho, mahasiswa Universitas Prasetya Mulya, Tangerang, semula sedang bereksperimen untuk mata kuliah Business Creation ketika tercetus ide untuk memproduksi SMITH Men Supply ini. Hal ini tidak lepas dari fakta bahwa produk perawatan rambut tidak hanya dibutuhkan oleh kaum perempuan. Produk SMITH sendiri terdiri dari sedikitnya tiga produk grooming dengan kisaran harga 70-160 ribu rupiah saja. SMITH kini telah bekerja sama dengan sejumlah barbershop sebagai distributor mereka, baik di wilayah Jakarta, maupun kota-kota besar lainnya di Indonesia seperti Semarang, Lampung, Jambi, Solok, Padang, Palembang, Aceh, dan Denpasar. Strategi pemasaran sebagaimana yang tim Mike dapat di kelas juga mereka praktikan dalam usaha mereka. Tak heran, omzet yang diraup Mike dan kawan-kawan mencapai angka Rp3,2 miliar per tahun.

BACA JUGA


Viral Kampanye #CELUP yang Kontroversial. Ini 5 Kampanye Anak Muda yang Peduli Kepada Sesama

Viral Kampanye #CELUP yang Kontroversial. Ini 5 Kampanye Anak Muda yang Peduli Kepada Sesama

Mendokumentasikan tindakan asusila di tempat umum adalah visi utama dari kampanye CELUP. Namun gerakan ini memicu reaksi negatif masyarakat ...

Read more..

Menjadi mahasiswa sama saja dengan menjadi gudang ide. Kreasi mahasiswa bisa menembus ruang kelas dan dapat memberi manfaat bagi orang banyak. Kalau gagal, itu sih bagian dari proses ya, Sahabat Trivia! Yang penting selalu berinovasi, berencana dengan matang, dan pastinya berusaha sungguh-sungguh agar bisa menghasilkan kesuksesan.




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tugas Kuliah Buat Kampanye yang Bikin Kontroversi? Jangan Salah! 5 Proyek yang Berawal dari Tugas Kuliah Ini Positif Banget!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Natasha Adelina | @natashey

Silahkan login untuk memberi komentar